Breaking News
DPD RIHeadLine

Tamsil Linrung: Persatuan Sipil dan Militer untuk Kemajuan Bangsa

×

Tamsil Linrung: Persatuan Sipil dan Militer untuk Kemajuan Bangsa

Sebarkan artikel ini
Wakil Ketua DPD RI Tamsil Linrung

PARLEMENTARIA.COM – Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Tamsil Linrung, menegaskan pentingnya persatuan sipil dan militer sebagai kunci memajukan Indonesia di panggung global.

Penegasan itu disampaikannya dalam acara halal bihalal Keluarga Besar Alumni dan Kader HMI MPO di Aula Badan Bahasa UNJ, Rawamangun, Jakarta, Minggu (11/5/2025).

Tamsil menggarisbawahi, bahwa keretakan hubungan sipil dan militer selalu dibayar dengan ongkos yang sangat besar. Hal itu telah dialami oleh banyak negara di dunia. Karenanya, ia berharap agar tidak ada yang mengusik situasi kondusif di Indonesia, di mana sipil dan militer bekerja sama membangun bangsa.

“Persatuan sipil dan militer adalah fondasi untuk mengelola potensi besar bangsa Indonesia. Dengan sinergi ini, kita dapat sejajar dengan negara maju, termasuk memperkuat pengaruh di BRICS untuk memperjuangkan kepentingan umat dan dunia yang lebih adil,” kata Tamsil.

Ia menambahkan bahwa kolaborasi dapat diwujudkan melalui dialog lintas sektor, pelibatan masyarakat sipil dalam kebijakan strategis, dan penguatan peran militer sebagai penjaga stabilitas nasional.

Tamsil memuji visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto sebagai kerangka strategis menuju masyarakat yang adil, sejahtera, dan beradab.

“Asta Cita adalah panduan menuju Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur, mengintegrasikan pembangunan ekonomi, kesejahteraan sosial, dan keberadaban moral. Program seperti pelatihan vokasi nasional, makan bergizi gratis, dan industrialisasi berbasis sumber daya lokal mencerminkan komitmen nyata untuk mengatasi ketimpangan dan memanfaatkan bonus demografi,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa Asta Cita menuntut kepemimpinan visioner yang tidak hanya kompeten, tetapi juga memiliki keberanian moral untuk menempatkan kepentingan rakyat di atas segalanya.

Tamsil mengajak alumni HMI menjadi garda terdepan dalam mewujudkan Asta Cita melalui kontribusi intelektual dan aksi nyata. “Kita harus membangun ekosistem kolaboratif lintas sektor, dari pendidikan hingga industri, untuk memastikan visi ini tidak hanya menjadi slogan, tetapi realitas yang dirasakan rakyat,” tambahnya.

Tamsil menegaskan bahwa silaturahmi bukan sekadar tradisi, melainkan strategi membangun ukhuwah dan kebangsaan. “Silaturahmi adalah fondasi perjuangan permanen untuk menyatukan bangsa di tengah ancaman fragmentasi sosial,” ujarnya di hadapan ratusan kader dan alumni HMI.

Ia menyoroti ketimpangan sosial-ekonomi sebagai tantangan mendesak bangsa. “Alumni HMI harus hadir dalam kebijakan, advokasi, dan ruang kekuasaan untuk mewujudkan keadilan sebagai kenyataan, bukan sekadar wacana,” tegasnya.

Dalam konteks global, Tamsil menekankan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina sebagai cerminan identitas anti-kolonialisme Indonesia. “Diam terhadap penjajahan di Palestina adalah pengkhianatan terhadap jati diri bangsa. Kita harus menggalang negara-negara BRICS untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina melalui diplomasi yang kuat,” katanya, seraya mendorong kampanye boikot produk pendukung Israel.

Tamsil juga menyerukan kebangkitan peran strategis umat melalui tiga kesadaran: ukhuwah, peran, dan spiritualitas. “Kita mungkin berbeda strategi, tetapi satu dalam cita-cita membangun bangsa yang bermartabat,” pungkasnya, disambut antusiasme peserta. (sam)

Komentar