Opini

#TERORIS dan NARKOBA

Oleh: H Anhar Nasution

 

BEBERAPA hari belakangan publik dikejutkan dengan berita aksi terorisme. Tidak tanggung-tanggung, yang menjadi target aksi tersebut adalah Mako Brimob dan markas-markas kepolisian lainnya, seperti Polrestabes Surabaya dan Mapolda Riau.

Berbagai komentar datang dari sejumlah kalangan, utamanya berasal dari para elite. Mereka menghujat, mengutuk dan menyumpah serapah atas aksi tidak berperi kemanusiaan yang dilakukan para teroris.

Saya menyebut tindakan tidak terpuji ini sebagai perbuatan terkutuk yang dilakukan sekelompok orang dengan mengatasnamakan agama, sementara ajaran agama manapun dimuka bumi ini tidak membenarkan.

Agama tidak mengajarkan perbuatan kekerasan apalagi sampai merenggut nyawa banyak orang yang tidak berdosa. Malah agama melarang perbuatan semacam itu. Bahkan dalam agama, pelaku diganjar dosa besar.

Pertanyaan besar yang muncul di benak kita sekarang, siapa manusia yang mampu memberikan pelajaran dan bahkan kalau boleh dikatakan doktrin sedemikian hebat ditujukan kepada mereka yang kemudian dicap sebagai para teroris?

Doktrin bagaimana pula yang diberikan sampai ada orang mau dan rela mengorbankan nyawanya tanpa ada rasa takut dan bersalah melakukan bom bunuh diri dimana akibatnya sangat luar biasa?

Manusia mana pula yang mampu melakukan tindakan dimana dengan tenangnya dia membawa bom di badannya. Padahal, dia mengetahui bahwa bom itu bila meledak akan meluluh lantahkan diri sendiri dan orang sekitarnya sesuai besar daya ledak bom tersebut.

Pastilah ada sesuatu yang patut dikaji secara mendalam latar belakang mengapa ada orang yang mau melakukannya. Bangsa Jepang yang kita kenal dengan manusia yang mampu melakukan ‘harakiri” jika harga dirinya sudah terhina sampai titik nadir dan tidak bisa lagi diperbaiki.

Di Indonesia ada beberapa suku yang juga menganut hampir semacam harakiri tersebut jika harga diri dan sukunya diinjak-injak, itu artinya ada sebagian manusia memiliki naluri untuk menghancurkan diri nya jika Harga diri sudah terhina dan di perlakukan Zolim oleh orang atau kelompok lain.
Benih-benih semacam inilah kemudian menjadi dasar pengamatan orang atau kelompok tertentu yang dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan jahatnya melakukan tindakan terorisme.

Kelompok manusia-manusia bejat ini memanfaatkan orang-orang tertindas dan teraniaya untuk diberikan pemahaman membela harga diri dengan dibumbui nilai-nilai agama.

Seperti kita ketahui, banyak yang jadi teroris itu mengatas namakan Islam. Kepada orang-orang seperti inilah diberikan doktrin nilai-nilai jihat sesat sampai mereka betul-betul meyakini bahwa ajaran yang mereka dapatkan itu sangat benar membela keyakinannya dijalan Tuhan bisa mati masuk surga, maka jadilah mereka seperi yg kita saksikan sekarang ini.
Pertanyaan besarnya sudah puluhan tahun kejahatan terorisme terjadi di Indonesia, ratusan dari mereka yang ditangkap atau ditembak mati, adakah sebuah solusi pemecahan masaalah mengatasi terorisme yang kita dapat dari kejadian itu?

Mengapa sampai hari ini kejahatan terosisme tidak pernah habis dan malah tindakannya semakin sadis. Selanjutnya, adakah kaitan Kerusuhan yang dilakukan teroris ini dengan akan dilaksanakannya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) negara-negara Islam di Indonesia.

KTT itu akan mengambil keputusan menolak ibu kota Israel di Yerussalem yang oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump sudah lebih dahulu menempatkan Kedubesnya Jerussalem.

Marilah kita buka mata lebar-lebar dan mari evaluasi setiap kali kejadian bom di Indonesia ini bertepatan dengan momentum apakah, mungkin saja dari sana kita dapat mengetahui akar masyaalah tersebut dan bisa mencari solusi pemecaham masaalah nya, sehingga kejahatan yang bersifat luar biasa (extra ordinari Crime) tidak berulang lagi.

Ditengah maraknya berita Bom, berita kasus-kasus Narkoba sedikit mereda karena hanyut ditelan berita bom bunuh diri para teroris. Kita jangan lengah dan jangan-jangan kejadian ini beririsan sangat tebal dengan mafia narkoba yang meraup keuntungan sangat besar jika kerusuhan demi kerusuhan ini menjadikan aparat lengah dan media disibukkan dengan pemberitaan diatas.

Jika itu benar, akan sangat naiflah bangsa kita, sangat mudah di buat lalai dan dibodohi dengan pengalihan kasus-kasus bom yang mungkin sengaja dibuat untuk hal tersebut.

Kalau saja menyadari bahwa anak bangsa mati sia-sia karena narkoba 45 sampai 50 orang setiap hari dan Presiden Joko Widodo setiap kali berucap bahwa Indonesia sudah ‘Darurat Narkoba’.

Kini yang menjadi pertanyaan besar bagi kita, kenapa tindakan pemberantasan Mafia bandar Narkoba itu tidak seheboh pemberantasan teroris, padahal kedua kejahatan ini sama-sama bersifat Extra Ordinary Crime.

Pada sisi lain kejadian bom yang dilakukan teroris, Panglima TNI begitu sigabnya mengeluarkan pernyataan akan membentuk pasukan Khusus terdiri dari tiga angkatan untuk membantu Polri memberantas tindak terorisme.

Saya sangat mengapresiasi langkah Panglima TNI ini. Jangan pikirkan ada pro dan kontra, yang penting dan pasti selamatkan serta lindungi lebih dahulu rakyat dari kejahatan biadap ini.

Kalau masalah teroris Panglima TNI begitu sigap, saya juga berharap hal Panglima TNI segera bertindak tegas dan konkrit terhadap kejahatan Mafia Narkoba.

Apalagi korban kejahatan narkoba jauh lebih banyak dan besar dibanding kejahatan terorisme. Daya rusak narkoba juga jauh lebih besar, “Perlahan tapi pasti, Senyap tapi menghancurkan.”

Dan, kepada Presiden Joko Widodo segeralah menerbitkan PERPU tentang Kejahatan Narkoba dan juga melibatkan TNI dalam pemberantasannya karena kejahatan Narkoba tidak hanya merongrong keamanan yang menjadi domain Polri, melainkan juga akan menghancurkan pertahanan negara dan membunuh generasi anak bangsa.

Jangan sampai terlambat, setelah habis generasi Bangsa mati sia sia karena Narkoba. baru penyesalan kemudian, Jika itu terjadi jangan salahkan Bangsa ini akan dijajah dan dikuasai oleh Bangsa asing.

H Anhar Nasution
Ketua Umum Satgas Anti Narkoba (SAN)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top