PONTIANAK– Indonesia kekurangan pemimpin yang dapat menjadi contoh
buat generasi penerus bangsa baik itu di tingkat pusat maupun daerah. Ini
menjadi persoalan buat bangsa Indonesia ke depan dalam menghadapi
tantangan yang semakin berat.
Hal tersebut dikatakan Wakil Ketua MPR RI, Evert Ernest Mangindaan saat
melakukan sosialisasi empat pilar MPR RI di depan lebih 250 anggota Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) se-Kalimantan Barat di
Hotel Kartika, Pontianak, Rabu (10/8).
Pada kesempatan tersebut selain EE Mangindaan juga hadir Wakil Gubernur Kalimantan Barat Christandy Sanjaya, Ketua DPD GAMKI Kalbar yang juga anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat Irma Suryani Ranik, Staf tenaga Ahli Presiden bidang Polhukam Theofransus Litaay serta Asops Kasdam XII Tanjungpura Kolonel Infantri Muhammad Muhidin.
Saya lihat, kata EE Mangindaan yang juga Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat tersebut, masih banyak pemimpin baik itu pusat dan daerah yang hanya berorientasi kepada kekuasaan semata. Orientasi kekuasaan mereka hanya sebatas untuk kepentingan pribadi, kelompok dan golongan.
Padahal, lanjut EE Mangindaan, pemimpin itu untuk keseluruhan, bukan hanya sebatas pribadi, kelompok dan golongan. Akibatnya, pemimpin yang seperti ini membuat bangsa ini sulit maju.
Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang berorientasi kepada rakyat. karena masih banyak rakyat yang hidup dalam garis kemiskinan. Apalagi, sekarang begitu besar jurang pemisah antara kelompok kaya dengan yang miskin. Kesenjangan itu tidak boleh dibiarkan karena bakal berbaya buat kehidupan berbangsa dan bernegara,
Menurut Gubernur Sulawesi Utara 1995-2000 tersebut, besarnya jurang pemisah antara si kaya dengan masyarakat miskin bangsa Indonesia ke depan. “Karena itu, dibutuhkan pemimpin yang pro kepada rakyat.”
Selain itu, jelas, EE Mangindaan, generasi muda sebagai penerus bangsa dan negara perlu paham dan menguasai teknologi di berbagai bidang agar mampu memakmurkan bangsanya. “Jika generasi muda pintar dan mampu menguasai teknologi maka masa depan Indonesia akan baik. Itulah tantangan bangsa Indonesia,” kata dia.
Selain itu, untuk membentuk secara sempurna generasi muda, wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) Sulawesi Utara ini menegaskan pentingnya penanaman nilai-nilai luhur bangsa dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut EE Mangindaan, Indonesia juga menghadapi tantangan masuk dan menyebarnya radikalisme yang berujung pemahaman sempit. “Ini adalah tantangan bangsa yang tidak kalah berbahayanya radikalisme dan pemahaman sempit dan primodialisme yang juga sempit. Ujungnya tentu saja tidak ada keuntungan buat rakyat secara keseluruhan.”
Contohnya, masih banyak masyarakat yang hanya memilih kepala
daerahnya yang berasal satu daerah dengannya. Dia tidak mau memilih
kalau tidak satu daerah. “Sejak pemilihan kepala daerah secara langsung itu terjadi boleh dikatakan hampir setiap daerah. Inilah pemikiran sempit karena memilih pemimpin bukan bertujuan untuk memakmurkan rakyat secara keseluruhan,” demikian EE Mangindaan. (art)






