JAKARTA– Salman alias Opik anak buah gembong teroris Santoso yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) menyerahkan diri kepafa Satuan Tugas (Satgas) Operasi Tinombala di Poso, Minggu (7/8). Santoso tewas dalam bakutembak dengan anggota Satgas Operasi Tinombala di pegunungan hutan Poso beberapa pekan lalu.
“Salah satu DPO bernama Salman menyerahkan diri pada Minggu sore
waktu setempat,” kata Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar dalam keterangan persnya pekan ini.
Dikatakan, informasi bahwa Salman hendak menyerahkan diri diperoleh dari seorang Bhabinkamtibmas yang tengah bertugas di desa Tamanjeka, Poso, Sulawesi Tengah.
Tim satgas lalu menuju ke desa itu. Salman yang tengah berada di kebun milik seorang warga langsung diamankan tim satgas. “Saat itu Salman sepertinya sudah berpasrah diri kemudian meminta bantuan, ada pihak yang mengkomunikasikan kepada kepolisian.”
Sebelumnya anak buah Santoso lainnya, bernama Jumri alias Tamar telah
juga menyerahkan diri kepada Satgas Operasi Tinombala. Sebelum menyeragkan diri, Jumri menemui keluarganya dan meminta agar diserahkan kepada petugasJumat (5/8) sekitar pukul 04.00 WITA di Dusun
Ratulene, Kelurahan Kasiguncu, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten
Poso.
Dengan menyerahnya Jumri dan Salman, kini buronan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) tinggal 16 orang. Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri bersama dengan jajaran Polda Sulteng menangkap tiga orang terduga teroris kelompok MIT, Kamis (4/8).
Ketiganya berinisial IA, JA dan MA. Ia ditangkap di rumahnya di Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi, Sulteng, sedangkan JA ditangkap di rumahnya di Palu, Sulteng. MA ditangkap di Bandara Mutiara Sis Al Jufri, Palu, ketika hendak berangkat ke Kalimantan.
Ketiganya berperan sebagai kurir pemasok logistik bagi kelompok
Santoso. Meski demikian, ketiganya tidak masuk daftar buron dalam
Operasi Gabungan Tinombala. (art)






