JAKARTA– Forum Tani Indonesia (Fortani) kecewa dengan kebijakan pemerintah pimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengimpor bawah merah dengan alasan untuk menstabilkan harga komiditas itu di dalam negeri.
“Kami dari Forum Tani Indonesia kecewa dengan keputusan pemerintah mengimpor bawang merah. Ini artinya, pemerintah tidak bisa mengantisipasi kenapa harus sampai melakukan impor,” kata Ketua Forum Tani Indonesia Wayan Supadno dihadapan para anggota Komisi IV DPR RI, Kamis (26/5).
Menurut Wayan, pemerintah tidak bijak dan kurang tegas mengantisipasi jangka panjangnya. Kalau memang volume nya kurang, berarti tanamannya kurang luas. Dan, kalau tanamannya kurang luas, berarti lahannya juga kurang luas dan jumlah petaninya kurang banyak.
“Ini harus jadi introspeksi pemerintah. Dan, paling mendasar di mata saya kurangnya pelaku pertanian usia muda serta tidak luasnya lahan pertanian. Hal ini tidak cukup dijawab dengan manipulasi data, dengan operasi pasar atau dijawab dengan impor.”
Cara yang dilakukan pemerintahan Jokowi, kata Wayan, hal ini dapat membunuh karakter profesi pertanian. Jadi, jangan salahkan kalau setiap tahun negeri ini kehilangan setengah juta kepala keluarga petani. Mereka beralih profesi karena tindakan-tindakan impor yang dilakukan pembantu Jokowi secara manajemen tidak tepat.
Hari sebelumnynya, Komisi IV DPR RI menggelar Rapat Dengan Pendapat (RDPU)dengan pelaku pertanian dari berbagai komoditas serta profesi yang tergabung dalam Fortani. Para Wakil rakyat ini mendengarkan ide dan gagasan dari anggota Fortani.
Dalam kesempatan rapat itu, Fortani menyampaikan butir-butir tuntutannya yang terangkum dalam Nawacita Petani Indonesia. “Ide dan gagasan pelaku pertanian ini ditampung dan menjadi bagian dari program dan anggaran pemerintah ke depan,” kata Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Herman Khaeron.
Politisi dari Partai Demokrat (PD) ini mengatakan, untuk mendekati Ramadhan dan Idul Fitri, pemerintah fokus untuk menstabilitasi harga. Masuknya bawang merah impor dimaksudkan untuk bisa mensuplai secara cukup.
‘Impor berbagai komoditas adalah untuk memenuhi kebutuhkan masyarakat sehingga harga diharapkan stabil. Dengan terpenuhinya kebutuhan berarti tidak timbul gonjang-ganjing atau fluktuasi harga selama Ramadhan dan Idul Fitri,” kata wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Barat tersebut.
Dikatakan, bawang merah termasuk komoditas yang daya tahannya tidak terlalu panjang. Karena itu, ini ke depan menjadi Pekerjaan Rumah (PR) Kementerian Pertanian supaya sejalan dengan ditingkatkannya produktifitas di budi daya serta pasca panennya juga lebih di urus. Agar komoditas itu dapat lebih bertahan lama.
“Untuk hari-hari besar keagamaan yang terindikasi akan menigkatnya suplai, harusnya sudah diprediksi, dan tentu atas perwilayahan distribusi dan penyediaan berbagai pasca panennya harus disiapkan,” jelas Herman.
Dikatakan, inkonsistensi ketercukupan terhadap komoditas tertentu mungkin juga disebabkan oleh faktor pasca panen. Apakah komoditas tersebut termasuk yang tidak bisa bertahan lama ataukah memang distribusi yang terhambat.
Karena itu, hal ini harus tetap dipikirkan. Kalau kemudian tekadnya untuk berbagai komoditas yang bisa diproduksi di dalam negeri, ini harus seutuhnya di suplai oleh dalam negeri, berarti tekadnya juga harus memperbaiki tingkat harga ditingkat petani.
“Ini supaya kwantinitas produksi ditingkat petani juga bisa dipertahankan. Jangan sampai harga ditingkat pasarnya ditekan pada level tertentu, tetapi kemudian pada akhirnya merembet ditingkat petani. Ini tidak ekonomis,” demiian Herman Khaeron. (art)






