SITUBONDO-Kalangan MPR merasakan ada sesuatu yang kurang di era reformasi ini, yakni rasa kebangsaan mulai pudar. Karena masyarakat telah meninggalkan nilai-nilai Pancasila. Oleh karena itu, MPR memandang penting kegiatan sosialisasi Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. “Kondisi para pemuda Indonesia saat ini seolah tidak berdaya menghadapi gempuran arus globalisasi yang dihiasi ekspansi budaya bangsa asing,” kata anggota Komisi X DPR RI, Anas Thahir di Situbondo, Senin (25/04/2016).
Lebih jauh Anas mengingatkan dalam ruang lingkup pendidikan, pengikisan ideologi Pancasila saat ini kian sangat terasa. Masih terekam jelas pada masa Orde Baru, Pendidikan Moral Pancasila (PMP) menjadi kurikulum wajib dan begitu serius diajarkan lengkap dengan Pedoman Pengamalan dan Pelaksanaan Pancasila (P4) yang dijabarkan dalam butir-butir Pancasila.
Meskipun tidak ada bukti empiris yang menunjukkan bahwa semua budaya asing memberikan dampak negatif bagi generasi muda, kata mantan Wakil Sekjen PBNU, namun jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin bangsa Indonesia akan kehilangan jati dirinya. “Sehingga akan terjebak dalam kolonialisme kontemporer lalu akan mudah dikendalikan bangsa lain,” tambah anggoat F-PPP yang hadir bersama sejumlah tokoh agama di Situbondo.
Di depan ratusan peserta sosialisasi Empat Pilar, Anas menambahkan masyarakat Indonesia yang dahulu religius mulai berubah menjadi masyarakat yang sekuler. “Logika berpikir rasional kini dikedepankan sementara nilai-nilai ajaran agama oleh sebagian masyarakat dianggap sebagai belenggu kebebasan,” jelasnya.
Dengan memperhatikan keragaman, lanjut Anas, budaya, agama, tradisi, pelu pengelolaan kebudayaan bersama oleh penyelenggara negara dan masyarakat menuju ke arah kemajuan adab, budaya, dan persatuan dalam rangka mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa. ***aec
Pemuda Dikhawatir Tak Berdaya Hadapi Globalisasi






