JAKARTA— Permainan kartel mengakibatkan harga daging di Indonesia mahal. Dampaknya, konsumsi daging masyarakat Indonesia rata-rata hanya 2 kg pertahun, jauh kalah dibandingkan dengan masyarakat Asean seperti Malaysia, Thailand dan Singapura. Rata-rata konsumsi daging mereka 20 kg setahun.
Itu dikatakan Ketua Dewan Pertimbangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Oesman Sapta Odang (OSO) ketika memberi kata sambutan pada pelantikan Pengurus Kadin Indonesia 2015-2020 di Balai Kartini, akhir pekan kemarin.
Harga daging di Indonesia saat ini, kata OSO yang juga Wakil Ketua MPR RI tersebut, sekitar Rp 120.000,- per 1 kg. Bahkan lebaran mendatang harga daging bakal mencapai diatas Rp 150.000,- . Harga tersebut jauh dari daya beli masyarakat Indonesia.
Padahal, lanjut senator dari Daerah Pemilihan (Dapil) Propinsi Kalimantan Barat tersebut, harga daging di tingkat produsen dibawah Rp 50.000,- perkg.
Harusnya harga daging di Indonesia Rp 50.000,- perkilo. Harga itu sesuai harga dasar, plus biaya transpor dan keuntungan importir. “Itulah kejamnya kartel, mereka tega menghancurkan bangsa dan negara. Karena itu Kadin harus menginisiasi lahirnya UU kartel”, tambah OSO.
Selain meminta Kadin Indonesia menganisiasi lahirnya UU kartel, OSO juga mengatakan bahwa pembangunan insfrastruktur, baik di darat maupun di laut telah menghidupkan banyak pengusaha. Baik pengusaha besar maupun pengusaha kecil. Termasuk penjaja minuman dan pedagang gorengan. Semua semakin sejahtera, karena mendapatkan manfaat dari pembangunan infrastruktur, baik didarat maupun di laut.
OSO mengukuhkan orang Pengurus Kadin Indonesia 2015-2016. Ikut hadir pada acara tersebut, Menko Maritim Rizal Ramli, Menkum HAM Yasonna H. Laoly, dan Panglima TNI Jend. TNI Gatot Nurmantyo. Serta Ketua Dewan Penasehat Tanri Abeng, beberapa anggota DPR RI serta sejumlah duta besar negara sahabat. (art)






