Breaking News
HeadLineKesra

Investasi Manufaktur Toyota 2020 Rp 20 T

×

Investasi Manufaktur Toyota 2020 Rp 20 T

Sebarkan artikel ini

JAKARTA– Toyota bakal meneruskan rencana besar di Indonesia yaitu invetasi di bidang manufaktur hingga mencapai Rp20 triliun sampai 2020.

Wakil Presdir PT Toyota Motors Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang Tjahjono di Tokyo, Jepang, Minggu (28/8) mengatakan, rencana investasi Toyota di Indonesia seperti yang dijanjikan Presdir Toyota Motor Corp (TMC) Akio Toyota telah direalisasikan sekitar Rp10 triliun.

“Proyek-proyek besar sudah direalisasikan, pabrik ke-3 sudah selesai,” ujarnya di sela-sela pertemuan dalam rangka kampanye keselamatan dan lingkungan TMC dengan berbagai media di Asia Pasifik termasuk media dari Indonesia.

Sejak 2013, kapasitas produksi Toyota di Indonesia terus bertambah dari 110.000 menjadi 250.000 unit saat ini. Sedangkan investasi yang telah dikucurkan TMC dalam beberapa tahun sekitar Rp10 triliun. Yang terbesar untuk pengembangan kapasitas produksi Kijang Innova, Fortuner sekitar Rp5 triliun, Sienta Rp2,5 triliun dan mesin NR Rp2,3 triliun. “Jadi masih ada investasi lanjutan, meski tidak sebesar sekarang,” ujar Warih.

Investasi lanjutan Toyota di Indonesia itu lebih untuk penyegaran atau modifikasi produk, selain investasi juga terkait efisiensi meningkatkan daya saing, termasuk membawa industri pendukung komponen seperti Denso.

Untuk membuat investasi yang ditanam di Indonesia itu optimal, TMC melalui TMMIN melakukan ekspor di samping memproduksi untuk permintaan dalam negeri. “Produksi untukekspor dan domestik sudah 50:50,” kata Warih.

Ekspor, kata dia, sangat penting untuk mencapai skala ekonomi beragam model mobil yang diproduksi TMMIN. Dia memperkirakan tahun ini ekspor produk Toyota darp Indonesia sekitar 170.000 unit, antara lain berupa Innova, Fortuner, Vios, Yaris di samping Avanza, Rush, Sienta.

“Ada penurunan permintaan ekspor beberapa model, terutama dari Timur Tengah. Namun, volume bisa tertutup oleh peningkatan ekspor dari negara di kawasan ASEAN, seperti Philipina.”

Contoh permintaan ekspor dari Timur Tengah turun dari 3.500 unit per bulan menjadi 2000 unit per bulan. Namun, permintaan Philipina naik dari 1.000 per bulan menjadi 2.000-2.500 unit per bulan. *art)

Komentar