JAKARTA– Bank penyalur program Kredit Usaha Rakyat (KUR)harus dievaluasi. Soalnya, dalam pelaksanaan keberadaannya tak sesuai apa yang menjadi harapan dan tujuannya pendirian bany penyalur program jredit tersebut.
“Kami kecewa dengan realisasi program KUR yang dijalankan bank penyalur. Banyak aduan dari masyarakat karena mereka dipersulit mengajukan dana KUR meski ada jaminan. Saya termasuk dari tujuh orang penggagas program KUR dan saya sangat kecewa karena realisasinya jauh dari harapan,” kata anggota Komisi XI DPR RI Andreas Eddy Susetyo di Malang, pekan ini.
Bank penyalur KUR tidak perlu pesimis terhadap masyarakat golongan menengah ke bawah yang mengajukan dana KUR di bawah Rp 5 juta, karena mereka mampu membayar dan melunasi pinjaman dari rentenir dengan baik.
“Kalau mereka bisa membayar pinjamannya di rentenir kenapa pengajuan KUR harus dipersulit dari sisi administrasi dan persyaratan lainnya. Apalagi selama ini, masyarakat kelas bawah itu lebih taat membayar kewajibannya seperti pinajam dibandingkan penguasa kelas kakap.”
Pengajuan dana KUR di bawah Rp25 juta tidak ada jaminan karena pemerintah sudah memberikan subsidi bunga kepada bank penyalur. Selain itu, 80 persen risiko bank sudah dijaminkan kepada pihak Jamkrindo.
Artinya, bank hanya menanggung sekitar 20 persen risiko. “Kalau masih ada jaminan lagi berarti bank kan hanya tinggal menunggu hasilnya. Sulitnya masyarakat mendapatkan kucuran dana KUR ini kemungkinan ada permainan dalam peyalurannya yang dilakukan oleh bank.” katanya.
Karena itu, dalam waktu dekat ini pihaknya akan segera melakukan evaluasi terhadap bank penyalur KUR. “Kami harus evaluasi total penyaluran KUR ini, karena tahun depan bunganya hanya 7 persen setahun. Kalau KUR ini benar-benar dimanfaatkan oleh UMKM pasti bisa maju dan berkembang,” demikian Andreas Eddy Susetyo. (art)






