JAKARTA– Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah mengingatkan kembali akan pentingya penguatan lembaga perwakilan seperti DPR. Jika tidak maka DPR hanya akan menjadi tukang stempel dari setiap apapun keinginan eksekutif karena memang pada dasarnya setiap kekuasaan memiliki tujuan tersebut.
Dikatakan, ini merupakan jebakan negara kalau parlemen tidak kuat. Dirinya anggota DPR tiga periode dengan tantangan pribadi maupun lembaga. Dan, Fahri memahami ada godaan dari setiap sistem pemerintahan, dimana eksekutif sangat kuat.
Makanya keinginan membangun parlemen yang kuat harus ada yang memikirkan, terutama karena sistem pendukung DPR belum begitu kuat sehingga sering terjadi apapun keinginan eksekutif terealisasi,” ujar Fahri di sela-sela acara buka puasa bersama dengan para wartawan di Gedung DPR, Jakarta, Senin (27/6).
Untungnya, lanjut Fahri, UU MD3 saat ini sudah semakin menguatkan lembaga parlemen. Kekuatan dewan bisa direalisasikan dan dimasukkan ke pasal-pasal yang ada. Di dalam sistem pendukungnya diatur itu. Jadi, akan ada kekuatan-kekuatan independen.
“Tapi tidak mudah meyakinkan masyarakat bahwa kita perlu DPR kuat karena pencitraan yang masif bahwa DPR kerjanya hanya ngomong doang, DPR tukang korupsi, DPR selalu menggangu pemerintah, sehingga ajak membangun DPR kuat menjadi sangat sulit direalisasikan.”
Padahal, lanjut wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) NTB itu, penguatan ini penting karena di eksekutif godaan menjadi sangat kuat. Jadi, istilah power tends to corupt, absultely power tends absolutely memang benar adanya. Itu khas eksekutif dimana-mana di seluruh dunia.
Itu sebabnya eksekutif jadi induk semang dalam sejarah diawal kekuasaan. Legislatif dan yudikatif menjadi bagian dari eksekutif atau raja.Baru ketika lahir teori pemisahan kekuasaan atau trias politika ini dipisahkan,” tegas dia.
Dengan demikian, tendensi bahwa eksekutif tidak mau diawasi menurut Fahri sudah ada sejak lahirnya kekuasaan dan kini berlanjut ketika eksekutif tidak mau diawsi oleh DPR dan maunya eksekutif DPR menyetujui saja apapun keinginannya. “Ini menimbulkan keresahan dan pertanyaan kenapa DPR diam saja,” ujar Politisi PKS ini lagi.
Kaki tangan atau tentakel eksekutif ini menurut Fahri sangat kuat dan bisa mempengaruhi apapun sepeti media massa, lembagai swadaya masyarakat, organisasi massa dan lain-lainnya. “Itulah sebabnya ketika saya merancang parlemen modern,kita mau mencontoh AS,yang meski juga kekuatan eksekutifnya lebih kuat, tapi parlemennya juga kuat.”
Eksekutif yang terlalu kuat seperti yang terjadi di AS di era kepemimpinan Obama, menurut Fahri, berbahaya karena bisa menimbulkan kalangan ultra nasionalis karena terakumulasinya kekecewaan masyarakat.
”Obama sebagai eksekutif memiliki kekuatan yang luar biasa. Makanya muncul kalangan ultra nasionalis seperti Donald Trump,yang terakomodir oleh kekecewaan masyarakat,” ujar Mantan Ketua Umum Kahmi ini lagi. (art)






