Breaking News
BERITA UMUMDaerahHeadLineInternasionalNasionalUmum

Denny Abdi: Diaspora Minang Harus Menjadi Kekuatan Besar Membangun Ranah

×

Denny Abdi: Diaspora Minang Harus Menjadi Kekuatan Besar Membangun Ranah

Sebarkan artikel ini

PARLEMENTARIA.COM — Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri RI yang juga Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Andalas (IKA Unand), Denny Abdi, menegaskan bahwa diaspora Minang memiliki potensi besar untuk ikut mendorong kemajuan Ranah Minang dan Provinsi Sumatera Barat.

Hal itu disampaikan Denny Abdi dalam acara Silaturahmi Minang Diaspora Global Network (MDGN) yang digelar di Universitas Yarsi, Jakarta, Sabtu (23/5).

Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah tokoh Minang, antara lain Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, tokoh berdarah Minang di Negara Jiran Malaysia, Tan Sri Rais Yatim, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Kepala BP BUMN Dony Oskaria, Wakil Ketua Umum DPP IKM Fahira Idris, Ketua Umum Gebu Minang Oesman Sapta, tokoh Minang pendiri Yarsi Jakarta Prof. Dr. H. Jurnalis Uddin, P.A.K, Presiden MDGN yang juga Rektor Univ. Yarsi, Prof. Fasli Jalal, Ph D, serta berbagai perwakilan organisasi dan tokoh masyarakat Minang di rantau.

Dalam sambutannya, Denny Abdi yang juga menjabat Komisaris Utama PT Hutama Karya menyebutkan, orang Minang memiliki jaringan yang luas, baik di dalam maupun luar negeri. Menurut mantan Duta Besar RI di Vietnam itu, jaringan itu perlu disatukan dalam satu gerakan besar untuk mendukung pembangunan Sumatera Barat.

“Sumbar punya banyak tokoh. Kita punya jaringan Minang di mana-mana. Tantangannya adalah bagaimana menemukan pintu masuk yang tepat agar semua kekuatan itu bisa bergerak bersama,” ujar Denny.

Ia mengatakan, diaspora Minang tersebar luas di berbagai negara, mulai dari Amerika, Asia, Eropa, hingga Australia. Kekuatan itu, menurutnya, harus dikonsolidasikan dengan semangat mufakat bersama antara ranah dan rantau, berbasis nagari.

Denny juga menyinggung pembangunan infrastruktur di Sumatera Barat, khususnya jalan tol Padang–Sicincin yang kini mulai membuka harapan baru konektivitas wilayah.

Setelah akses tol tersambung, kata dia, Sumatera Barat harus mempersiapkan diri sebagai daerah tujuan wisata yang berbudaya, bersih, dan memiliki standar pelayanan internasional.

“Tol sudah ada dan siap dilanjutkan untuk bisa terhubung dengan Riau. Setelah itu, kita harus memajukan pariwisata yang berbudaya dan khas Sumbar. Titik-titik destinasi perlu diperbaiki, kebersihan harus ditingkatkan, dan pelayanan sejak pintu masuk, termasuk di bandara, harus dibuat lebih baik,” katanya.

Denny menilai, salah satu persoalan mendasar pariwisata Sumbar adalah belum kuatnya standar kebersihan internasional di daerah ini. Karena itu, oa bersama pengurus IKA Unand menggagas pelatihan bagi petugas kebersihan di Bandara Internasional Minangkabau, agar kesan pertama wisatawan terhadap Sumatera Barat menjadi lebih baik.

Ia juga menyinggung kawasan Mandeh yang memiliki potensi sangat besar untuk dikembangkan melalui investasi. Namun, menurutnya, masyarakat harus tetap dilibatkan dan pemerintah daerah perlu mempermudah perizinan agar investasi dapat berjalan sehat serta memberi manfaat bagi daerah.

Selain pariwisata, Denny juga menyoroti pentingnya pendidikan, riset, dan kesiapsiagaan bencana. Ia menyebut, Unand siap dijadikan sebagai pusat riset bagi terowongan jalan tol yang akan dibangun dari Sicincin ke perbatasan Riau dan akan membangun sejumlah terowongan.

Sumatera Barat sebagai daerah rawan bencana membutuhkan pusat kajian yang kuat, termasuk terkait rencana pembangunan sejumlah terowongan jalan tol yang tahan gempa.

“Bencana tidak bisa dihindari, tetapi risikonya bisa kita minimalisir. Karena itu, kita harus saling terkoneksi agar Sumbar bisa menjadi provinsi terkemuka di Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menegaskan pentingnya memperkuat hubungan antara ranah dan rantau. Menurut Mahyeldi, sejarah membuktikan banyak tokoh Minang masa lalu mampu berkiprah besar karena memiliki pendidikan, wawasan luas, dan semangat merantau yang kuat.

Ia menyebut, diaspora Minang yang tersebar di 22 negara merupakan modal sosial yang sangat besar. Karena itu, hubungan antara masyarakat di kampung halaman dan perantau harus terus diperkuat dalam semangat kebersamaan berbasis nagari.

Dalam kesempatan yang sama, tokoh senior Malaysia berdarah Minang, Tan Sri Rais Yatim, menyampaikan pesan kuat tentang pentingnya mempertahankan bahasa Minang bagi orang awak di manapun berada.

Putra Minang asal Palupuh, Agam, yang lahir di Negeri Sembilan, Malaysia, itu mengingatkan bahwa perubahan zaman boleh diterima, tetapi bahasa dan jati diri Minang tidak boleh hilang.

“Minang tetap Minang. Di mana pun berada, bahasa Minang harus menjadi pegangan orang Minang,” ujar Rais Yatim.

Ia mencontohkan masyarakat Cina di berbagai negara, termasuk Singapura dan Malaysia, yang tetap kuat dan berhasil karena mempertahankan bahasa, budaya, serta identitas mereka.

Menurut Rais, orang Minang juga harus memiliki kebanggaan yang sama terhadap bahasa dan budayanya.

“Lihat orang Cina. Di mana pun mereka berada, kecinaannya tetap dipertahankan. Mereka berjaya karena bersatu dan menjaga bahasanya. Orang Minang juga harus begitu,” katanya.

Rais Yatim menegaskan, keindahan Minangkabau tidak hanya terletak pada adat dan sejarahnya, tetapi juga pada budi bahasa. Menurutnya, bahasa adalah penanda utama kebudayaan. Jika bahasa hilang, maka sebagian besar jati diri juga akan ikut melemah.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam sambutannya menyebut kebudayaan Minangkabau merupakan salah satu kekuatan besar bangsa Indonesia. Ia menegaskan, kebudayaan tidak hanya terbatas pada seni, tetapi juga mencakup manuskrip, adat istiadat, ekspresi budaya, sejarah, dan warisan peradaban.

Pendiri Yarsi yang juga tokoh Minang asal Sulit Air, Solok, merasa bangga dengan terselenggaranya cara silaturahim yang dihantar oleh Direktur Eksekutif Minang Diaspora Global Network, Jurnalis Ilyas dan Presiden MDGN Prof. Fasli Jalal, Ph.D.

Ia menyampaikan apresiasi khusus kepada Rais Yatim yang telah mengingatkan orang Minang untuk mempertahankan dan melestarikan budaya Minangkabau, terutama bahasanya.

Turut memberikan sambutan dalam kesempatan itu Ketua Umum Gebu Minang Oesman Sapta yang hadir langsung setelah mendarat dari Singapura.

Sementara, Ketua Umum DPP IKM Andre Rosiade yang sedang di tanah suci, diwakili oleh Wakil Ketua Umum IKM bidang Bundo Kandung, Fahira Idris.

Pada kesempatan itu, Minang Diaspora juga menyerahkan penghargaan untuk 5 orang putra terbaik Minangkabau yang dinilai telah berjasa di bidangnya, antara lain: Penyair Taufik Ismail, Tan Sri Rais Yatim, Pengusaha Wardah Nurhayati Subakat, tokoh ulama Buya Mas’oed Abidin, Pendiri Yarsi Prof. Jurnalis Uddin dan pengusaha Yendra Fahmi. (sal)

———-

Teks foto: Sekjen Kemenlu yang juga Ketua Umum IKA Unand, Denny Abdi, menyerahkan penghargaan untuk pengusaha filantropis Minang, Yendra Fahmi yang diwakili Ketua Harian Gebu Minang Pusat, Marwan Paris. (Foto Syafruddin AL)

Komentar