Serang, awal Februari 2026. Langit Banten membentang cerah ketika ribuan insan pers dari seluruh Indonesia berdatangan menghadiri Hari Pers Nasional (HPN) 2026, termasuk insan pers dari Sumatera Barat.
Lobi-lobi hotel di Kota Serang dipenuhi percakapan hangat. Kafe dan warung kopi tak pernah benar-benar sepi. Di sudut-sudut kota, pelaku UMKM tersenyum menyambut lonjakan pembeli. Ada denyut ekonomi yang terasa berbeda—lebih cepat, lebih hidup.
Di tengah semarak itu, Gubernur Banten, Andra Soni, berdiri sebagai tuan rumah. Baginya, HPN bukan sekadar seremoni tahunan yang datang dan pergi. Ia melihatnya sebagai momentum strategis: mesin penggerak ekonomi sekaligus panggung untuk memperkuat citra Banten di mata nasional.
HPN 2026 menjelma menjadi katalis. Tingkat hunian hotel meningkat signifikan. Transportasi lokal bergerak dinamis. Produk-produk UMKM—dari kuliner khas hingga kriya lokal—mendapat ruang promosi yang luas.
Bagi Andra, inilah yang disebutnya sebagai _multiplier effect_ . Kehadiran ribuan jurnalis tak hanya membawa agenda konferensi dan diskusi, tetapi juga perputaran uang, jejaring baru, dan promosi tak ternilai bagi daerah.
Di sela-sela agenda HPN, ia menyampaikan keyakinannya dengan nada mantap. “Saya ingin HPN ini meninggalkan jejak yang nyata. Bukan hanya ramai selama beberapa hari, tetapi memberi dampak ekonomi dan kepercayaan jangka panjang bagi Banten. Kalau daerah ini dipercaya, maka investasi akan datang dan lapangan kerja akan terbuka,” ujarnya dalam sebuah Podcas.
Namun ia tak ingin dampaknya berhenti pada angka-angka okupansi dan transaksi harian. Ia memahami betul bahwa pers adalah duta informasi. Dari Banten, ribuan cerita akan dibawa pulang dan disiarkan ke berbagai penjuru negeri. Jika yang sampai adalah narasi tentang daerah yang aman, ramah, terbuka, dan potensial, maka kepercayaan publik—termasuk investor—akan tumbuh. Dan ketika kepercayaan tumbuh, pembangunan akan menemukan momentumnya.
Dalam rangkaian HPN itu pula digulirkan Gerakan Kota ASRI—Aman, Sehat, Resik, dan Indah. Insan pers bersama masyarakat turun dalam aksi sosial dan bersih lingkungan.
Bagi Andra, simbol ini penting: perayaan tak boleh meninggalkan jejak sampah, melainkan jejak kesadaran kolektif.
Membangun daerah bukan tugas pemerintah semata, tetapi kerja bersama.Ia menambahkan, “Pers adalah mitra strategis pemerintah daerah. Kritik itu penting, kontrol itu perlu. Tapi yang lebih penting lagi adalah semangat membangun bersama. Kalau narasi yang kita bangun adalah optimisme dan kerja nyata, maka daerah ini akan melesat lebih cepat.”
Langkah Banten menjadi tuan rumah HPN juga tak berdiri sendiri. Ada visi lebih besar yang tengah disusun. Banten bersiap mengajukan diri sebagai tuan rumah PON 2032 bersama Lampung. Strateginya jelas: event nasional adalah akselerator. Infrastruktur dipacu, promosi meningkat, perputaran ekonomi melebar. Banten, menurut Andra, harus berani bermain di panggung nasional—bukan sekadar menjadi penonton.
Kisah Panjang Seorang Perantau
Dalam pertemuan dengan wartawan asal Sumatera Barat yang dipimpin Ketua PWI Sumbar, Widya Navies, di rumah dinasnya di sela-sela HPN tersebut, Andra Soni yang lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat, 12 Agustus 1976, menceritakan kisah hidupnya yang merantau sedari kecil.
“Ambo ko urang awak dari Payakumbuah. Sajak ketek pergi merantau dan Alhamdulillah diamanahi menjadi Gubernur di tanah rantau, yaitu Banten,” kata Andra dalam logat Minang yang pasih.
Andra tumbuh dari keluarga petani sederhana, berakar pada tradisi Minangkabau yang kuat. Masa kecilnya tak menetap di satu tempat. Ia mengikuti orang tuanya merantau ke Pekanbaru, Duri, Dumai, bahkan hingga Malaysia, tempat sang ayah bekerja sebagai buruh kebun sawit.
Menyeberang dengan perahu kecil melintasi Selat Malaka, adalah hal biasa bagi Andra kecil. “Kita datang memang sebagai penyelundup,” cerita Andra.
Hidup berpindah-pindah membuatnya akrab dengan keterbatasan. Ia belajar sejak dini tentang arti bertahan dan beradaptasi.
Dalam kultur Minang, merantau bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan ujian mental. Dari sanalah ia ditempa—menjadi tangguh, berani mengambil risiko, dan tak mudah menyerah.
Setelah kembali ke Indonesia, ia menetap di Ciledug, Tangerang. Dalam kondisi ekonomi yang tak selalu lapang, ia bekerja sambil menempuh pendidikan hingga meraih gelar magister.
Ia menjalani dua jalan sekaligus: membangun karier dan memperkuat fondasi ilmu. Filosofi perantau Minang—sukses lewat ilmu dan usaha—menjadi pegangan hidupnya.
Sebelum terjun ke politik, Andra meniti karier profesional hingga posisi manajerial, lalu mendirikan usaha logistik.
Kiprah politiknya dimulai pada 2013 ketika ia bergabung dengan Partai Gerakan Indonesia Raya. Ia terpilih menjadi anggota DPRD Banten, kemudian dipercaya menjabat Ketua DPRD Provinsi Banten.
Gaya kepemimpinannya dikenal lugas, merakyat, dan mengedepankan musyawarah. Puncaknya datang pada Pilkada 2024. Ia meraih mandat mayoritas dan dilantik sebagai Gubernur Banten periode 2025–2030.
Dari anak petani, perantau kecil, pekerja keras, hingga pemimpin provinsi—perjalanannya mencerminkan nilai yang ia yakini: akar budaya bukan beban, melainkan fondasi.
Momentum HPN 2026 di Banten seakan menjadi simbol pertemuan dua arus dalam hidupnya: dunia gagasan dan dunia perjuangan. Pers sebagai penjaga nalar publik, dan dirinya sebagai perantau yang percaya bahwa reputasi, seperti kehidupan, dibangun dari kerja keras dan konsistensi.
Di Kota Serang yang riuh oleh diskusi dan kamera, Andra Soni berdiri bukan hanya sebagai gubernur tuan rumah. Ia adalah representasi seorang anak rantau yang membuktikan bahwa nilai-nilai kampung halaman dapat tumbuh subur di tanah orang—dan dari sana, memberi makna bagi pembangunan yang lebih luas.
Namun dalam menjalankan tugasnya sebagai nahkoda Banten, Andra mengaku sedang berbenah. Ia berjanji akan memberikan kerja dan kinerja maksimal untuk tanah kelahiran Syafruddin Prawira Negara yang notabene tokoh PDRI dan bermarkas di Bukittinggi.
Sebagai pemimpin, tentu ada masyarakat dan berbagai pihak yang belum merasa puas atas kerjanya. “Kan baru setahun, tetapi memang, seorang pemimpin pasti akan disorot bila ditemukan suatu masalah sekecil apapun bentuknya. Jalan tol yang macet saja, padahal itu tanggung jawab nasional, tetap gubernur yang dosalahkan. Itu hal biasa,” celetuknya dalam perbincangan santai dengan Majalah Rantau dan Parlementaria.com saat Andra meresmikan Warung Taburai di Kota Tangerang beberapa waktu lalu. ( Syafruddin AL/Berbagai Sumber)






