Breaking News
NasionalPolitik

Hasil Riset GFS Indonesia Negara Paling Bahagia di Dunia, Jamiluddin Ritonga: Presiden tak Perlu Terharu

×

Hasil Riset GFS Indonesia Negara Paling Bahagia di Dunia, Jamiluddin Ritonga: Presiden tak Perlu Terharu

Sebarkan artikel ini

PARLEMENTARIA.COM – Hasil riset Global Flourishing Study (GFS) menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat kebahagiaan tertinggi di dunia, mengungguli hampir 200 negara lain.

Pengamat komunikasi politik Jamiluddin Ritonga menilai temuan GFS itu layak dipercaya karena dilakukan kolaborasi antara Harvard University, Baylor University, dan lembaga riset Gallup.

“Karena itu, wajar kalau hasil riset itu mendapat perhatian Presiden Prabowo Subianto. Presiden Prabowo mengaku terharu atas hasil riset tersebut, karena dalam keadaan belum sejahtera, namun banyak anak bangsa menjawab bahagia,” kata Jamil kepada media ini, Rabu (7/1/2026).

Menurut Jamil, Prabowo sesungguhnya tak perlu terharu atas temuan tersebut. Sebab, Prabowo hanya mengkaitkan kebahagiaan semata dengan kesejahteraan.

“Dengan pola pikir seperti itu, kebahagiaan suatu negara dengan sendirinya hanya dikaitkan dengan kesehjateraan suatu negara. Kalau negara tersebut sejahtera atau makmur, maka rakyatnya diasumsikan akan bahagia,” kata Jamil.

Sebaliknya, kata Jamil di negarà berkembang dan miskin, maka diasumsikan akan sedikit rakyatnya yang bahagia. Asumsi itu benar bila rakyat disuatu negara menilai tempat mencari kebahagiaan semata di dunia. Kebahagiaan dengan sendirinya akan diukur dengan kesejahteraan yang diperoleh rakyat suatu negara.

“Namun rakyat suatu negara, termasuk Indonesia, ada juga yang mencari tempat kebagiaan di akhirat dan keseimbangan dunia akhirat. Dua kelompok ini tidak akan mengukur kebagiaan semata dari kesejahteraan,” jelas Jamil.

Dijelaskan Jamil bagi kelompok yang mencari tempat kebahagiaan di akhirat akan menjadikan keimanan sebagai sumber kebahagiaan utama. Karena itu, bisa saja mereka tidak sejahtera (miskin), tapi mereka mengaku bahagia. Pengakuan mereka ini bisa saja apa adanya, bukan dibuat-buat.

Hal yang sama juga berlaku bagi kelompok mencari tempat kebahagiaan pada keseimbangan dunia akhirat. Kelompok ini meskipun di dunia kesejahteraannya belum memadai bisa saja mengaku bahagia karena ia yakin akan mendapat hal itu di akhirat.

“Jadi, kalau Indonesia ditempatkan sebagai negara dengan tingkat kebahagiaan tertinggi di dunia, bisa jadi karena rakyatnya dominan lebih mencari tempat kebahagiaan di akhirat. Hal ini sejalan dengan pendapatan rakyat Indonesia yang masih rendah. Karena itu, kebahagiaan rakyat Indonesia bukan karena kesejahteraan tapi lebih bersumber dari keimanan,” ujar Jamil.

Hal itu tentu menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah Indonesia dalam membahagiakan rakyatnya. Pemerintah tak cukup hanya menggunakan pendekatan kesejahteraan dalam membangun Indonesia. Ini hanya cocok bagi rakyat Indonesia yang mengejar tempat kebahagiaan di dunia semata.

Pemerintah juga perlu memenuhi kebutuhan rakyat Indonesia yang ingin bahagia di akhirat dan keseimbangan dunia dan akhirat. Untuk yang ingin bahagia di akhirat, pemerintah perlu mengintensifkan pembangunan di bidang agama agar kelompok ini merasa diperhatikan dan nyaman dalam beribadah

Pemerintah juga perlu menyeimbangkan pembangunan kesejahteraan dan religi agar kelompok yang mengejar kebahagiaan keseimbangan di dunia dan akhirat dapat terpenuhi.

“Kalau hal itu dilakukan, maka pemerintah sudah melakukan pembangunan secara adil untuk semua rakyatnya agar dapat mencapai kebahagiaan. Untuk itu, pemerintah sudah seharusnya mengevaluasi pendekatan kesejahteraan dalam membangun negeri tercinta,” kata pengajar Universitas Esa Unggul itu. (*)

Komentar