Breaking News
BerandaDaerahHeadLinePeristiwa

Gelora Kepedulian Perantau Minang di TMII: Doa dan Seni Menyatu untuk Bencana Sumatera Barat

×

Gelora Kepedulian Perantau Minang di TMII: Doa dan Seni Menyatu untuk Bencana Sumatera Barat

Sebarkan artikel ini

Parlementaria.com — Ribuan mata tertuju pada Anjungan Sumatera Barat di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Rabu malam, 10 Desember 2025. Dalam suasana yang khidmat, para perantau Minangkabau bersama masyarakat luas berkumpul dalam kegiatan Malam Seribu Doa untuk Ranah Minang, sebuah gerakan kemanusiaan yang digelar untuk membantu para korban bencana yang melanda Sumatera Barat.

Sejak awal acara, suasana haru dan kebersamaan begitu terasa. Lantunan doa bergema, berdampingan dengan pertunjukan seni Minangkabau yang menggugah perasaan. Momen ini menjadi ruang penyatuan empati dan solidaritas para perantau terhadap tanah kelahiran yang tengah dilanda musibah.

Dalam sambutannya, Ketua Pelaksana Malam Seribu Doa, Anton Rahmat Wijaya, tak kuasa menahan air mata saat mengisahkan sejumlah tragedi pilu di lokasi bencana. Ia mengungkapkan betapa beratnya beban masyarakat yang kehilangan rumah, keluarga, maupun penghidupan, sekaligus menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung terlaksananya kegiatan kemanusiaan tersebut.

Acara ini juga dimeriahkan oleh penampilan lebih dari seratus penari Sanggar Tari Limpapeh, Sanggar Citra Art Studio, serta berbagai seniman yang tampil secara sukarela. Mereka mempersembahkan karya seni sebagai simbol doa yang diwujudkan melalui gerak, musik, dan ekspresi budaya khas Minangkabau.

Malam itu semakin berkesan dengan kehadiran musisi nasional Dwiki Dharmawan, serta penyanyi legendaris Minangkabau Alkawi dan Thalia Koto. Perpaduan musik tradisi dan harmoni modern menciptakan suasana emosional yang menyentuh banyak hati. Penampilan Devan dan Dedi Copan turut memperkuat nilai spiritual acara tersebut.

Kekhidmatan semakin dalam melalui tausiyah ustaz Jelita Donald, LC, MA, yang mengingatkan bahwa doa harus berjalan seiring tindakan nyata. Ia menegaskan bahwa musibah yang melanda Sumbar adalah panggilan bagi umat manusia untuk bergerak dan membantu sesama, bukan sekadar mengirimkan doa dari kejauhan.

Ketua Umum Rumah Seniman Minang, Mel Sofyan, menekankan bahwa kegiatan ini bertujuan mengetuk hati para dermawan agar ikut berkontribusi dalam pemulihan masyarakat terdampak. Ia menegaskan bahwa dukungan jangka panjang dari perantau menjadi unsur penting dalam mempercepat bangkitnya kembali kehidupan di daerah bencana.

Selain doa bersama, panitia Perantau Peduli Bencana Ranah Minang juga melakukan penggalangan bantuan. Hingga acara berakhir, terkumpul pakaian layak pakai, perlengkapan bayi, obat-obatan, serta dana tunai sebesar Rp288 juta yang seluruhnya akan segera disalurkan kepada masyarakat terdampak di Sumatera Barat. Melalui doa, seni, dan kepedulian yang menyatu, para perantau Minang membuktikan bahwa jarak tak pernah membatasi kasih sayang mereka untuk Ranah Minang. (*)

Komentar