Breaking News
BerandaDaerahSorotanUmum

Wawancara Khusus Drs. H. Noprizon, M.Kes Dt. Mangkuto Rajo: Gaungkan PerKAB Demi Agam dan Bukittinggi Yang Tercipta Ketika Tuhan Tersenyum

×

Wawancara Khusus Drs. H. Noprizon, M.Kes Dt. Mangkuto Rajo: Gaungkan PerKAB Demi Agam dan Bukittinggi Yang Tercipta Ketika Tuhan Tersenyum

Sebarkan artikel ini

Di tengah derasnya arus urbanisasi dan tantangan pembangunan daerah, tekad untuk mengabdi pada kampung halaman tak pernah padam di hati para perantau Minangkabau. Dari Palembang, semangat itu menemukan bentuk baru melalui kehadiran Perkumpulan Kekerabatan Agam–Bukittinggi (PerKAB), sebuah gerakan sosial yang lahir untuk menghimpun potensi perantau dua daerah bersejarah tersebut di seluruh Indonesia.

Tokoh di balik lahirnya PerKAB adalah Drs. H. Noprizon, M.Kes., Dt. Mangkuto Rajo — apoteker, akademisi kesehatan, dan tokoh masyarakat Minangkabau di Sumatera Selatan. Selain menjadi ketua pertama PerKAB, di tingkat Provinsi, ia juga dipercaya sebagai Ketua Badan Musyawarah Kekeluargaan Minangkabau (BMKM) Sumatera Selatan.

Seusai bertamu ke kediaman tokoh Agam Irman Gusman Datuk Rajo Nan Labiah di Bintaro, Jakarta, pekan lalu untuk menggaungkan PerKAB secara nasional, Pemimpin Redaksi Parlementaria.com Syafruddin AL bersama wartawati freelance Parlementaria.com di Palembang, Adriani, merangkum wawancara dan penjelasan Noprizon, yang menegaskan tekadnya menjadikan PerKAB sebagai gerakan moral, sosial, dan ekonomi yang lahir dari rantau untuk Agam dan Bukittinggi. Berikut petikannya:

Apa yang melatarbelakangi lahirnya PerKAB di Palembang?

PerKAB bermula dari rasa rindu untuk menyatukan perantau Agam dan Bukittinggi yang tersebar di berbagai daerah. Kami butuh wadah bukan sekadar untuk bersilaturahim, tapi juga sarana berpikir, berkarya, dan berkontribusi bagi kampung halaman. Sebab, potensi Agam dan Bukittinggi itu luar biasa. Dari alamnya saja—ada Ngarai Sianok, Danau Maninjau, Gunung Merapi dan Singgalang, Puncak Lawang, hingga riak lautan di Pantai Tiku—semuanya seperti diciptakan ketika Tuhan tersenyum. Dari daerah seindah itu lahir pula banyak tokoh besar bangsa seperti Bung Hatta dan Haji Agus Salim. Begitu juga di era sekarang, banyak tokoh muda di bidang politik, pengusaha dan akademisi yang bermunculan di mana-mana. Itulah kekuatan kita.

Apa tujuan besar PerKAB?

Agam dan Bukittinggi jangan sampai diabaikan. Dengan PerKAB, kami berharap perantau dapat berkontribusi nyata di berbagai sektor: pembangunan, bisnis, pendidikan, juga sosial kemasyarakatan. Kami ingin menggerakkan kembali semangat pulang basamo dalam makna yang lebih luas. Tidak hanya pulang kampung saat lebaran, tapi pulang dalam bentuk pemikiran, gagasan, dan investasi.

Mengapa Agam dan Bukittinggi disatukan dalam satu wadah?

Karena keduanya saling melengkapi. Bukittinggi itu kota peradaban dan pendidikan, sementara Agam adalah lumbung alam dan budaya. Orang bilang Bukittinggi itu kota Rang Agam. Sejak dahulu sudah seperti satu kesatuan.

PerKAB adalah rumah besar bagi seluruh anak Agam dan Bukittinggi di rantau untuk bersatu dan kembali membangun nagari.

Bagaimana peran PerKAB Palembang dalam gerakan ini?

Palembang adalah titik awal lahirnya PerKAB pada 2024. Kini sudah berdiri 17 cabang di kabupaten/kota di Sumatera Selatan. Tapi kami tidak berhenti di sini. Kami ingin PerKAB berkembang secara nasional bahkan internasional.

Pusatnya akan kita bangun di Jakarta sebagai rumah besar perantau Agam–Bukittinggi di mana pun berada. Kami juga berharap dukungan para tokoh besar asal Agam dan Bukittinggi agar gaungnya terdengar di seluruh penjuru negeri.

Bagaimana peran generasi muda dan kolaborasi lintas profesi?

Anak muda kita kini banyak yang cerdas dan visioner. Tapi mereka butuh jembatan. Perantau bisa menjadi jembatan itu—melalui akses, pengalaman, dan jejaring. Saya ingin PerKAB menjadi forum lintas profesi: akademisi, pengusaha, politisi, birokrat, semuanya bersatu membangun kampung halaman.

Sebagai tokoh kesehatan, apa cita-cita sosial PerKAB di mata Bapak?

Saya sudah lama bergerak di bidang kesehatan masyarakat. Saya tahu daerah masih butuh banyak dukungan. Lewat PerKAB dan BMKM, kita ingin membangun gerakan kolektif yang menyentuh kesehatan, pendidikan, termasuk penguatan lembaga sosial kemasyarakatan. Bukan sekadar memberi sumbangan, tapi membangun kemandirian.

Harapan Anda ke depan?

Saya ingin PerKAB menjadi gerakan moral dan sosial. Dari rantau, kita satukan langkah dan pikiran untuk Agam dan Bukittinggi. Jika daerah kita diciptakan ketika Tuhan tersenyum, saatnya kita membalas senyum itu dengan karya nyata. (*)

Komentar