Breaking News
Ekonomi

BKSAP: Swedia Ingin Tingkatkan Kerja Sama Perdagangan Dengan Indonesia

×

BKSAP: Swedia Ingin Tingkatkan Kerja Sama Perdagangan Dengan Indonesia

Sebarkan artikel ini

PARLEMENTARIA.COM– Swedia yang berkembang menjadi salah satu negara berorientasi kepada ekspor di kawasan Eropa berharap dapat meningkatkan nilai perdagangan dengan Indonesia.

Ketua Delegasi Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI, Rofi Munawar saat Kunjungan Kerja (Kunker) Panitia Kerjasama Ekonomi Regional ke Stockholm, Swedia, pekan ini mengatakan, berbagai isu strategis dibicarakan dalam pertemuan dengan parlemen setempat.

“Peningkatan kerja sama perdagangan Indonesia-Swedia dan dalam kerangka regionalisme Uni Eropa-ASEAN menjadi agenda utama Kunker BKSAP ke Swedia,” kata politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.

Dikatakan, keunggulan teknologi dan inovasi telah menjadikan Swedia salah satu ekonomi terkuat di kawasan Uni Eropa. “Ini menjadi menarik mengingat Swedia sebelumnya merupakan negara miskin dan harus melakukan upaya ekstra untuk keluar dari krisis ekonomi,” kata wakil rakyat Dapil Provinsi Jawa Timur tersebut.

Menurut siaran pers yang diterima Parlementaria.com, Kamis (8/12), Swedia negara yang berorientasi kepada ekspor baik global maupun intra-trade antar negara anggota Uni Eropa.

“Keterbukaan ekonomi didukung fasilitasi perdagangan melalui Free Trade Agreements dengan negara mitra adalah kunci sukses Swedia membangun perekonomian. Sebagai anggota Uni Eropa, kebijakan ekonomi Swedia banyak bergantung kepada kebijakan di level regional.”

Berkaca kepada pengalaman FTA dengan Canada, perjanjian kerja sama itu saat ini dapat meningkatkan volume perdagangan kedua negara hingga 17 persen.

Ketua Komisi Luar Negeri Parlemen Swedia yang menjadi salah satu mitra dialog Panja dalam kunjungan ini mengapresiasi pertemuan tersebut karena Indonesia sebagai negara besar ingin meningkatkan kerja sama pada bidang ekonomi dengan Swedia.

Lebih jauh dikatakan, Swedia menyadari dengan penduduk sekitar 10 juta jiwa dan Sumber Daya Alam (SDA) terbatas, untuk menutupi kekurangan SDA itu mereka fokus ke inovasi teknologi.

Kebijakan terkait inovasi dipusatkan di Dewan Inovasi Nasional dan dipimpin langsung Perdana Menteri Swedia, Stefan Lofven. Inovasi Swedia didukung kekuatan riset dan pengembangan dengan melibatkan semua pemangku kepentingan.

Riset yang dilakukan harus implementatif. Prioritas riset bersifat demand-driven, menyesuaikan dengan kebutuhan industri. Karena perkembangan teknologi yang sangat cepat, legislasi terkait hal itu harus fleksibilitas dan menyesuaikan dengan dinamika di lapangan” demikian Rofi Munawar.

Wakil Ketua Panja Kerja Sama Ekonomi Regional BKSAP, Dave Fikarno Akbarshah mengatakan, kunjungan Panja juga membahas teknologi ramah lingkungan, pengembangan ekonomi hijau dan ekonomi kreatif yang strategis bagi hubungan bilateral RI-Swedia.

Dalam pertemuan itu disinggung soal kelapa sawit dan implementasi HAM dalam bisnis di Indonesia. Menyikapi hal itu, BKSAP menyampaikan komitmen Indonesia bagi implementasi standar yang setaraf dengan standar internasional dalam industri kelapa sawit.

Hal itu berupa pembenahan di berbagai aspek yang terus dilakukan termasuk melalui peremajaan lahan, pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan dan praktik bisnis yang menjamin industri sawit dikelola berkelanjutan.

Anggota Panja yang ke Swedia adalah Nazarudin Kiemas, Vanda Sarundajang (PDIP), Hasnuryadi Sulaiman (Golkar), Mukhtar Tompo, Andika Pandu Puragabaya (Gerindra), Jon Erizal (PAN), Abdul Kadir Karding (PKB), Mahfuz Sidik (PKS) dan Achmad Farial (PPP). (art)

Komentar