PARLEMENTARIA.COM – FSP BUMN Bersatu siap berhadapan dengan pihak-pihak yang melakukan kampanye hitam terhadap kinerja Bank BTN. Karena dari data yang dimiliki FSP BUMN Bersatu, BTN telah melakukan capai-capaian yang memuaskan.
“Sangat miris dan kecewa kalau ada sejumlah pihak yang mencoba melakukan kampanye hitam terhadap kinerja Bank BTN dengan data-data yang tidak tepat,” ujar Ketua Umum FSP BUMN Bersatu, Arief Poyuono.SE dalam siaran pers yang diterima wartawan, Rabu (15/03/2017).
Menurut Arief, tuduhan miring itu jauh dari panggang dari api, sebab BTN telah melakasanakan Trisakti Nawacita Presiden Joko Widodo untuk mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.
“Semuanya telah direalisasikan BTN sebagai bank milik rakyat dengan mendukung penuh kepemilikan hunian bagi masyarkat menengah ke bawah, baik hunian yang berupa rumah susun maupun rumah bersubsidi,” jelasnya.
Dia menyebutkan, BTN telah penyaluran kredit dan berhasil mencatatkan kenaikan sebesar 18,34% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari Rp 138,95 triliun pada akhir 2015 menjadi Rp 164,44 triliun di Desember 2016.
Dengan posisi pertumbuhan BTN tersebut lanjut Arief, membuat BTN berada di atas rata-rata industri sejenisnya. Dimana berdasarkan analisis Bank Indonesia (BI) terkait Analisis Uang Beredar M2 menyatakan kredit perbankan nasional hanya naik 7,8% yoy pada Desember 2016.
Lebih jauh Arief juga menjelaskan bahwa kredit di sektor perumahan untuk masyarakat kelas menengah dan bawah justru menjadi penyokong utama kenaikan pinjaman di BTN. “Artinya pemberian KPR di BTN dinilai oleh masyarkat sebagai bank yang paling mudah dan efisien untuk memiliki hunian bagi masyarakat,” katanya.
Kredit yang menempati 89,97% porsi pinjaman di BTN ini, naik 18,43% dari tahun ke tahun yaitu dari Rp 124,92 triliun di akhir 2015 menjadi Rp 147,94 triliun di periode yang sama tahun lalu. Kemudian, pertumbuhan terbesar di segmen ini berasal dari kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi yang naik 30,57% dari tahun Ke tahun yaitu dari Rp 43,52 triliun pada akhir Desember 2015 menjadi Rp 56,83 triliun di Desember 2016. “Ini bukti nyata kalau manajemen BTN berhasil merealisasikan visi besar Trisakti – Nawacita Presiden Joko Widodo,” tegasnya.
Apalagi, pembiayaan KPR BTN itu diperuntukan untuk masyarakat menengah dan bawah telah memberikan dampak yang besar juga terhadap pertumbuhan ekonomi pada sektor lainnya, terutama sektor Industri UMKM yang produk-produknya diperlukan untuk pembangunan hunian serta barang barang untuk mengisi rumah jika dihuni, seperti Industri mebel, batako, pasir, kusen kayu.
“Jika mau jujur tahun 2015 dan 2016 merupakan tahun yang lesu bagi sektor properti tetapi BTN dengan strategi yang jitu mendukung pendanaan pembangunan hunian murah bagi masyarakat membuat sektor properti menjadi bangkit kembali,” cetusnya.
” Anggota kami banyak yang telah menikmati pula kredit KPR dari BTN, jadi kami mempertanyakan motif pihak-pihak yang getol kampanye hitam kepada BUMN,” pungkasnya. (esa)






