Breaking News
HeadLinePeristiwa

Asap Kebakaran Lahan dan Hutan di Riau Mulai Kurangi Jarak Pandang di Dumai

×

Asap Kebakaran Lahan dan Hutan di Riau Mulai Kurangi Jarak Pandang di Dumai

Sebarkan artikel ini

JAKARTA– Pemerintahan pimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) harus belajar dari pengalaman masa lalu termasuk bencana asap akibat dari pembakaran lahan dan hutan tahun lalu yang berbulan-bulan menyelimuti sebagian wilayah Sumatera, Kalimantan dan Papua.

Asap akibat kebakaran hutan itu membuat udara dikawasan Indonesia dan malah sampai ke Singapura dan Malaysia tidak sehat. Bahkan beberapa daerah sempat menyatakan darurat asap. Walau pemerintah pusat tidak mau atau berani menetapkan bencana nasional.

Yang pasti, beberapa pekan terakhir asap akibat kebakaran lahan dan hutan sudah mulai kembali mengganggu masyarakat di sebagian Pulau Sumatera, Kalimantan Barat dan Tengah.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi, kabut asap akibat kebakaran lahan dan hutan mulai menyelimuti wilayah Kota Pontianak (Kalimantan Barat), Palangkaraya (Kalimantan Tengah) dan sejumlah kota di Pulau Sumatera.

“Kota Dumai dan sekitar di Provinsi Riau, Kamis (18/8) pagi terpantau jarak pandang menurun menjadi lima kilometer, dari biasanya tujuh sampai delapan kilometer,” kata Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Pekanbaru, Slamet Riyadi.

Pada daerah lain di provinsi ini, lanjut dia, jarak pandang masih tergolong relatif aman dari kabut asap sebagai imbas bahaya kebakaran lahan dan hutan seperti Pekanbaru dengan jarak pandang sembilan kilometer, Rengat enam kilometer, dan Pelalawan 10 kilometer.

Menurutnya, timbul kabut asap di Dumai tidak terlepas kondisi lonjakan titik panas di Kabupaten Rokan Hilir dan merupakan wilayah konsentrasi kebakaran lahan dan hutan di Propinsi Riau, karena mayoritas titik panas serta titik api terdeteksi berada di daerah ini dalam sepekan terakhir.

Rabu (17/8), titik panas di wilayah berbatasan langsung dengan Dumai terdeteksi Satelit Terra dan Aqua 123 titik, 92 titik di antaranya menjadi titik api, sedangkan hari ini terpantau 22 titik panas, dan 17 di antaranya titik api.

“Kami bandingkan titik panas di Dumai kemarin, dari total 278 titik panas di Riau, 20 titik panas di antaranya berada di daerah pelabuhan itu dengan 14 titik api. Hari ini, hanya tiga titik panas dan nihil titik api.”

Asap yang terkonsentrasi di Dumai juga dipengaruhi pergerakan arah angin dari tenggara menuju barat daya dengan kecepatan lima sampai 15 knots atau 10 hingga 27 kilometer per jam.

Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) Provinsi Riau menyampaikan pekan ini, terus melanjutkan operasi pengeboman air menggunakan helikopter MI-8 di ke wilayah Rokan Hilir. “Target operasi hari ini di Kecamatan Tanah Putih, Rohil,” kata Komandan Satgas Udara Karhutla Riau, Marsma TNI Henri Alfiandi.

Sejak Minggu (14/8), kebakaran lahan terjadi di Rokan Hilir terus meluas hingga menyebar ke sejumlah kecamatan. Puluhan titik api juga terpantau satelit Terra dan Aqua sejak awal pekan lalu.

Potensi kebakaran di Rokan Hilir cukup tinggi lantaran wilayah tersebut tidak lagi diguyur hujan dalam tiga pekan terakhir. “Pengerahan heli bermarkas di Lanud Roesmin Nurjadin terus dikerahkan demi membantu tim darat dalam penanggulangan karhutla di Rokan Hilir.”

Danrem 031/Wirabima Brigjen TNI Nurendi menyatakan mengerahkan satu Satuan Setingkat Kompi (SSK) 100 personel untuk membantu memadamkan api akibat kebakaran lahan dan hutan yang terjadi di wilayah Kabupaten Rokan Hilir Provinsi Riau.

“Pasukan malam ini datang lagi satu SSK langsung dan sektor Danyon Arhanudse 13. Mereka bermalam di lokasi yang ditugaskan untuk padamkan api dan menghilangkan asap agar tidak menjadi luas,” kata Nurendi.

Sebelumnya petugas dari Koramil Rokan Hilir menangkap dua terduga pembakar hutan dan lahan di hutan di daerah itu. Setelah diperiksa, kedua orang itu merupakan warga daerah lain dan bekerja sebagai pembersih lahan perkebunan. Yang bersangkutan hanya mengaku sebagai buruh lepas. (art)

Komentar