Breaking News
HeadLineKesra

Petani Harus Antisipasi La Nina

×

Petani Harus Antisipasi La Nina

Sebarkan artikel ini

JAKARTA– Pemerintah minta petani hortikultura di tanah air agar mengantisipasi dan menyesuaikan masa tanam agar tidak kena dampak merugikan akibat terjadinya Al Nina di tanah air. Terjadinya Al Nina sudah dinformasikan pemerintah kepada para petani.

“Hadirnya La Nina ini dapat dilihat dari datangnya musim hujan lebih awal, tentunya hal ini dapat mempengaruhi produksi petani hortikultura,” kata Ketua Dewan Hortikultura Nasional Benny Kusbini usai diskusi bedah hortikultura yang diselenggarakan Kadin Indonesia di Jakarta, Rabu (10/8).

Perlu dipikirkan bagaimana caranya agar produksi hortikultura Indonesia tidak terlalu terpengaruh musim dengan memanfaatkan teknologi pertanian seperti halnya dilaksanakan di beberapa negara maju. “Kita bangun green house atau rumah tanaman di sentra-sentra hortikultura baik menggunakan kaca maupun plastik sehingga panen dapat dilaksanakan tanpa mengenal cuaca.”

Pemerintah harus memfasilitasi pembangunan green house ini mengingat biayanya yang tidak kecil. Sebagai tahap awal dapat dilakukan di sentra-sentra hortikultura seperti tomat, bawang dan cabai.

Selain itu juga perlu data produksi hortikultura yang lebih detil untuk mengantisipasi gejolak harga. “Jadi selain data cuaca juga data panen di setiap sentra-sentra produksi hortikulutra tujuannya agar petani tetap untung dan harga masih terkendali.”

UU hortikultura telah membagi peran dan tugas baik pemerintah, petani, dan stakeholder dalam pengembangan seperti pengadaan infrastruktur, benih unggul, pupuk, dan lain sebagainya.

Kepala Badan Lembaga Penelitian, Pengembangan dan Pengkajian Ekonomi (LP3E) Kadin, Didik J. Rachbini mengatakan, ke depan dituntut petani yang memiliki kemampuan inovasi dan berjiwa wirausaha.

“Dengan kemampuan itu maka petani akan menggunakan teknologi untuk meningkatkan hasil taninya baik itu dengan memanfaatkan benih unggul, green house atau cara-cara lain,” jelas dia.

Menurut Didik, peran tenaga penyuluh juga sangat penting untuk meningkatkan keberhasilan hortikultura di Indonesia, mereka bertugas menyampaikan teknologi pertanian terkini kepada petani agar dapat diaplikasikan.

Ketua Asosiasi Perbenihan Hortikultura Indonesia (Hortindo), Afrizal Gindow mengatakan, hortikultura lima tahun terakhir mengalami perbaikan terlihat impor turun 17 persen dan ekspor naik 23 persen.

“Hal ini disumbang naiknya produksi hortikultura diantaranya sayuran 2,7 persen, buah 6,6 persen, tanaman obat 4,24 persen, florikultura jenis bunga potong 18,6 persen,” ungkap Afrizal.

Peluang hortikultura ke depannya sangat besar terlihat dari jumlah penduduk Indonesia mencapai 350 juta tahun 2050 sehingga perlu strategi untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.

Kesadaran pola hidup sehat mulai dilakukan di sejumlah negara dengan mengurangi konsumsi karbohidrat seperti beras, serta memperbanyak konsumsi buah dan sayur-sayuran, kata Afrizal menjelaskan.

Diakui, tantangan dalam bertani hortikultura adalah kondisi cuaca, seperti hadirnya La Nina akan mendorong berkembangnya jamur dan bakteri yang dapat merusak tanaman. “Kunci keberhasilan petani dalam menghadapi penyakit adalah pemeliharaan dan penggunaan benih berkualitas.”

Ketua Komite Tetap Pengembangan Pasar Pertanian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Karen Tambayong mengatakan, kebutuhan nutrisi di Indonesia 30-40 persen sehingga memang perlu kebijakan sektor hortikultura yang menyeluruh. Melihat piramida makanan, masyarakat belum optimal mendapatkan nutrisi dari sayur dan buah-buahan.

Kadin akan membuat rencana aksi bersama pemerintah (Kementerian Pertanian) dalam upaya mengembangkan hortikultura di Indonesia baik untuk memenuhi pasar dalam negeri maupun luar negeri. (art)

Komentar