JAKARTA– Ketua Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siraj mengatakan, keharmonisan antarumat beragama di daerah merupakan tanggung jawab Bupati, Kapolres, Dandim dan para ulama. Demikian pula halnya di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, keharmonisan agama itu merupakan tanggung jawab kepala daerah setempat.
Itu dikatakan Said Aqil Siradj saat memberi tausiyah di hadapan para kader NU dan masyarakat pada Halal Bil Halal, di Tanah Grogot, Kabupaten Paser, semalam. Acara itu dihadiri Wakil Bupati Paser Mardikansyah, Ketua NU Paser Nurul Huda, Ketua Syuro NU serta kepala SKPD setempat.
Dikatakan, gesekan antarumat agama terjadi karena tidak adanya rasa toleransi dan saling menghargai atas perbedaan yang ada di NKRI. Pada dasarnya, manusia akan mudah berbenturan karena adanya kepentingan, baik itu pribadi atau kelompok. Kepentingan itu adalah nafsu yang tidak terkendalikan.
Bentrokan dan gesekan terjadi karena ada kepentingan. Dalam istilah agamanya, kepentingan itu hawa nafsu. “Pada hakikatnya manusia menginginkan kedamaian dan ketenteraman. Namun, karena hawa nafsu atau kepentingan itulah terjadi gesekan, bentrokan, hingga pertikaian dan perperangan.”
Diakui, keberadaan NU penting dalam menjaga keharmonisan antar umat beragama. NU mempunyai andil besar membantu pejuang terdahulu dalam memperjuangkan kemerdekaan. “Telah tertanam dalam diri mereka cinta tanah air dan agama menjadi pendorong untuk meraih kemerdekaan,” ujar Said Aqil.
Di Timur Tengah, lanjut dia, sedikit ulama yang memiliki pemikiran cinta tanah air dan agama menjadi satu kesatuan. Bahkan, tidak ada ulama di Timur Tengah mengatakan cinta tanah air sebagian dari iman dalam beragama.
“Hanya di Indonesia saja, para ulamanya terutama ulama NU, yang menilai cinta tanah air atau Hubbul Wathan, merupakan bagian dari iman dalam beragama,” jelas Said Aqil.
Dia menghimbau Kader NU dan masyarakat mempertahankan tradisi pemikiran seperti itu untuk mempertahankan kedaulatan bangsa dan negara Indonesia. Di Timur Tengah mayoritas ulamanya kental cinta kepada agamanya, tetap masih terjadi perang. “Itu karena mereka tidak menjadikan cinta tanah air bagian dari iman,” demikian Said Aqil. (art)






