Breaking News
HeadLineKesra

Menag: Lestarikan Dakwah Secara Budaya

×

Menag: Lestarikan Dakwah Secara Budaya

Sebarkan artikel ini

JAKARTA– Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Nasional XXVI Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) melestarikan jenis dakwah budaya sebagaimana telah dicontohkan oleh Walisongo.

Karena itu, kata Wakil Ketua MPR RI 2009-2014 itu, cara berdakwah seperti ini harus dilestarikan. “Berdakwah bisa dengan berbagai cara selama itu baik termasuk lewat seni baca Alquran. MTQ sudah berkembang. Tolak ukurnya kategori lomba semakin banyak atau tidak hanya cabang tilawah,” kata Lukman di Mataram, NTB, Sabtu (30/7).

Dari semula kategori tilawah, kata Lukman, kini sudah ada tujuh cabang. Keragaman cabang MTQ itu berkembang untuk kategori selain tilawah, di antaranya hafalan Alquran, tafsir Alquran, penulisan makalah ilmiah Alquran, khat ayat Alquran, syarhil Quran dan fahmil Quran.

Dari pengembangan kategori, kata Lukman, semakin mendekatkan umat kepada Alquran. Dengan begitu, umat Islam akan semakin memahami Alquran yang berisi ajaran Islam dengan kasih sayangnya atau ‘rahmatan lilalamin’.

“Rahmat memiliki makna kedamaian dan kemakmuran. Inilah seharusnya Indonesia menuju baldatun toyyibun wa rabbun ghafur yang bisa terwujud jika kita bisa melakukan revolusi mental dalam memaknai rahmat,” kata dia.

Pengembangan lain dari MTQN kali ini adalah penerapan teknologi informasi e-MTQ yang meningkatkan transparansi perlombaan tilawatil quran tingkat nasional. “Mari kita jadikan MTQ mulia yang membawa Alquran sebagai penyejuk yamg menenteramkan,” demikian Lukman Hakim Saifuddin. (artJAKARTA– Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Nasional XXVI Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) melestarikan jenis dakwah budaya sebagaimana telah dicontohkan oleh Walisongo.

Menurut Wakil Ketua MPR RI 2009-2014 tersebut, berdakwah bisa dengan berbagai cara selama itu baik termasuk lewat seni baca Alquran. “MTQ tingkat nasional sudah berkembang. Salah satu tolok ukurnya kategori lomba sudah semakin banyak atau tidak hanya cabang tilawah,” kata Lukman di Mataram, NTB, Sabtu (30/7).

Dari semula kategori tilawah, kata Lukman, kini sudah ada tujuh cabang. Keragaman cabang MTQ itu berkembang untuk kategori selain tilawah, di antaranya hafalan Alquran, tafsir Alquran, penulisan makalah ilmiah Alquran, khat ayat Alquran, syarhil Quran dan fahmil Quran.

Dari pengembangan kategori, kata Lukman, semakin mendekatkan umat kepada Alquran. Dengan begitu, umat Islam akan semakin memahami Alquran yang berisi ajaran Islam dengan kasih sayangnya atau ‘rahmatan lilalamin’.

“Rahmat memiliki makna kedamaian dan kemakmuran. Inilah seharusnya Indonesia menuju baldatun toyyibun wa rabbun ghafur yang bisa terwujud jika kita bisa melakukan revolusi mental dalam memaknai rahmat,” kata dia.

Pengembangan lain dari MTQN kali ini adalah penerapan teknologi informasi e-MTQ yang meningkatkan transparansi perlombaan tilawatil quran tingkat nasional. “Mari kita jadikan MTQ mulia yang membawa Alquran sebagai penyejuk yamg menenteramkan,” demikian Lukman Hakim Saifuddin. (art)

Komentar