JAKARTA– Cendikiawan muslim Indonesia, Din Syamsuddin mengatakan, Indonesia harus lulus dari ujian kemajemukan sehingga dapat berkembang menjadi bangsa yang besar.
“Mereka yang siap hidup berdampingan adalah pihak yang lulus ujian. Yang tidak lulus ujian tersebut adalah pihak yang saling menyerang,” kata Din dalam acara buka puasa bersama di rumah dinas Ketua DPR RI, Ade Komarudin, Senin (20/6).
Selain mantan Ketua PP Muhammadiyah tersebut juga hadir dalam acara itu Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wapres Jusuf Kalla serta sejumlah pejabat tinggi negara lainnya.
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta tersebut mengatakan bahwa kemajemukan bangsa Indonesia merupakan sunatullah atau hukum Tuhan. “Kita berada dalam latar kemajemukan bukan karena keinginan kita tapi karena kemauan Ilahi.”
Di balik ketentuan Ilahi tersebut ada ujian. “Kemajemukan bisa membawa persatuan tetapi juga bisa membawa perpecahan,” terang Din Syamsuddin.
Disebutkan, Indonesia merupakan negara dengan penduduk
mayoritas muslim. Jika posisi umat Islam yang mayoritas itu
terpuruk, akan terdorong munculnya gejala radikalisme. “Ada
gejala seperti itu, tapi saya yakin kelompok arus utama bisa
menyelesaikan masalah tersebut,” kata dia.
Sedangkan Ade Komarudin mengatakan, hikmah yang bisa
diperoleh dari ibadah puasa adalah ujian dalam kemajemukan.
“Islam mengakui pluralisme, dalam kondisi seperti ini pemimpin
harus adil, tidak boleh mendiskreditkan golongan satu dengan
lainnya.”
Politisi Partai Golkar ini menyebutkan, sebentar lagi Menteri
Agama Lukman Hakim Saifudin juga akan diuji saat penentuan 1
Syawal 1437 Hijriah.
Dikatakan, Islam Indonesia merupakan Islam toleran yang
disebarkan lewat budaya seperti wayang, seni bela diri dan
lainnya. “Dalam bhineka tunggal ika, semua orang berhak
menjalankan keyakinannya, namun harus bertanggung jawab atas
perilaku masing-masing untuk tidak mengganggu lainnya,”
demikian Ade Komarudin. (art)






