
JAKARTA – Konflik internal yang terjadi di Partai Golkar dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dinilai telah mengganggu kinerja DPR. Konflik internal di kedua partai tersebut juga telah melahirkan dua kubu yang berseberangan.
Setidaknya hal tersebut dirasakan anggota DPR dari Fraksi PPP Fadli Nursal dan Bowo Sidik Pangarso dari Fraksi Partai Golkar. Keduanya mengungkapkan dalam diskusi ‘Mengukur Efeketifitas Kinerja DPR di Tengah Dualisme Fraksi/Parpol’, di Gedung DPR RI Jakarta, Kamis (25/3). Juga tampil sebagai pembicara pengamat politik dari Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti.
Fadli benar-benar sudah merasakan betapa terhambatnya kinerja parlemen hanya karena permasalahan rebut-rebutan kekuasaan. Terakhir, munculnya hak angket menggugat keputusan Menteri Hukum dan HAM (Menkumham), Yasona Laoly terkait kepengurusan Partai Golkar dan PPP.
Karena itu, ia meminta Pimpinan DPR untuk bersikap tegas menyikapi soal kubu-kubuan di Fraksi Partai Golkar dan Fraksi PPP. Sikap Pimpinan DPR yang tidak tegas selama ini dalam menyelesaikan dualime pimpinan fraksi telah menyebabkan Parlemen tersandera dan tak bisa bekerja dengan baik sesuai tupoksi.
“Kalau mau menyelesaikan masalah secara efektif, ini ada di pimpinan. Ada langkah cepat di pimpinan. Kalau ada dua kelompok, ada dua kubu, harus bisa segera diputuskan kubu siapa yang bisa dijadikan pegangan. Tentu tolak ukurnya adalah putusan pemerintah,” tegas Fadli Nursal yang selama ini berada di kubu PPP Romy.
Bowo Sidik juga mengakui prihatin dengan kondisi parpol dan DPR yang terbelah sekarang ini, karena pasti menggangu kinerja DPR. Alasannya, karena anggota DPR sekarang ini masih takut kehilangan kekuasaan, takut dengan partai dan takut dengan elit-elit politik yang berkuasa.
Karena itu ia berharap, siapapun kubu Golkar yang menang, baik Aburizal Bakrie (ARB) maupun Agung Laksono, tidak melakukan PAW karena anggota DPR memiliki tanggungjawab yang besar kepada konstituennya di daerah masing-masing.
“Jadi, ke depan kalau bisa tidak ada recall, pencopotan, agar anggota DPR yang bertanggungjawab kepada konstituennya bisa bekerja dengan baik untuk daerah pemilihan masing-maisng. Kita harap konflik itu segera berakhir dan semua kembali bersatu dan mengabdi untuk rakyat,” harap Bowo yang menyatakan mendukung kubu Agung Laksono.
Sedangkan Ray berkeyakinan bahwa konflik internal di PPP dan Golkar tidak akan selesai sampai akhir tahun 2015 ini. Sebab, siapapun yang menang, apalagi Agung Laksono atau Romahurmuziy (Romi), maka mereka ini akan bergerak untuk melakukan reposisi pimpinan fraksi, pimpinan komisi, dan sampai pimpinan DPR/MPR. “Jadi, selama 2015 ini kegaduhan politik akan berlanjut dan DPR akan makin terpuruk di mata rakyat,” ujarnya.
Sebenarnya dalam kondisi saat ini menurut Ray, merupakan peluang bagi anggota DPR untuk menunjukkan kinerja dan kualitasnya sebagai wakil rakyat. “Mau berpendapat apapun di tengah fraksi yang tak bertuan, maka bebas saja untuk berekspresi. Mau ikut angket Menkumham, mau tolak angket tidak masalah, tidak ada yang akan merecall,” tegasnya. (chan)





