JAKARTA– Untuk meredam gejolak yang sering terjadi di Papua, Presiden Joko Widodo (Jokowi) harus melakukan pendekatan secara intensif dan realistis terhadap masyarakat setempat.
Pendekatan yang dilakukan Jokowi selama ini, kata Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah, baru secara simbolik. “Langkah yang dilakukan Jokowi itu belum membuahkan hasil. Perlu dicari formulasi sehingga daerah paling Timur Indonesia ini tidak terus bergejolak,” kata Fahri.
Yang dibutuhkan masyarakat Papua, lanjut wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) Nusa Tenggara Barat (NTB) tersebut,
elusan dari pemerintah pusat.
Tentang langkah Jokowi yang memberikan pengampunan dan mengabulkan tuntutan miliaran rupiah sebagai ganti rugi terhadap tahanan politik Organisasi Papua Merdeka (OPM), lanjut politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini, tidak efektif.
Buktinya, OPM tetap beraksi. Terakhir mereka menyandera dua Warga Negara Indonesia (WNI) dengan membawa tawanan melintas ke wilayah Papua New Guini. Itu artinya, apa yang dilakukan Jokowi selama ini belum membuahkan hasil.
“Saya lihat, ada yang belum selesai dalam penanganan masalah Papua. Itu harus dievaluasi Jokowi sehingga dapat ditemukan langkah-langkah tepat untuk menyelesaikan persoalan Papua.”
Menurut dia, untuk merangkul OPM, Jokowi harus melakukan pendekatan yang lebih intens dan realistis. “Saya pernah usul agar presiden bangun istana di Papua. Dengan adanya Istana di Papua, Jokowi bisa rutin mengunjungi Propinsi paling Timur wilayah Indonesia itu. Dengan demikian, mereka tidak merasa dianaktirikan oleh pemerintah pusat seperti yang mereka rasakan selama ini.”
Menurut Fahri, tidak sulit buat presiden untuk sering ke Papua karena ada pesawat kepresidenan yang siap mengantar kepala negara ke wilayah itu. “Ada pesawat kok. Nggak perlu transit-transit. Apa sulitnya. Rangkul hati masyarakat Papua,” kata dia.
Langkah lain, kata Fahri, tingkatkan pendidikan masyarakat Papua. “Jadikan mereka pejabat seperti menteri atau juru bicara presiden,” demikian Fahri. (art)






