Opini

Pidato Jokowi di Forum IMF-WB Menyiratkan Kecemasan Akut

Oleh Fadli Zon* –

PIDATO Presiden Jokowi di depan IMF yang menyatakan kami bergantung pada
Bapak Ibu semuanya, para pembuat kebijakan moneter dan fiskal dunia untuk
menjaga komitmen kerja sama global justru menunjukan sebagai sikap
pemimpin negara yang lemah. Sebagai tuan rumah, mestinya posisi Indonesia
diuntungkan untuk dapat menyampaikan masukan serta kritik terhadap IMF.

Selain analogi “Games of Thrones” tak relevan dengan situasi saat ini.
jika disimak baik-baik, pidato Presiden Jokowi di forum IMF-World Bank
Annual Meeting kemarin, justru menunjukkan ekonomi Indonesia itu lemah di
tengah tantangan ekonomi global saat ini. Jika demikian, apa yang patut
diapresiasi dari pidato tersebut?

“Setidaknya, ada dua hal yang menjadi pertimbangan saya, menilai pidato
Presiden kemarin tak punya substansi penting bagi bangsa kita di hadapan
IMF.

Pertama, pidato Presiden Jokowi di forum IMF, menyiratkan kecemasan
akut. Sangat disayangkan di forum tersebut, sikap mental yang
dipertontonkan Presiden justru mental inferior yang mengemis belas kasihan
negara besar.

Di sisi lain, pidato tersebut justru menunjukkan pemerintah
Indonesia sedang tak percaya diri dengan arah kebijakannya dalam
mengatasi kondisi rupiah yang terus terdepresiasi.

Sejak rupiah menembus angka 14.000 per dollar, kami sudah mengingatkan,
agar pemerintah menghentikan drama “rupiah baik-baik saja”. Kebobrokan
ekonomi jangan ditutup-tutupi. Sekarang, ketika rupiah semakin
terdepresiasi, dan tak dapat ditutup-tutupi lagi, pemerintah justru
mengeluhkannya kepada IMF. Ironis!”

Sehingga, saya melihat pidato Presiden kemarin, justru mencerminkan
mental pemimpin kita yang inferior, karena kepercayaan dirinya yang
terus terkikis.

Kedua, karena kita tuan rumah, seharusnya kritik terhadap IMF yang
pernah disampaikan Presiden Jokowi di 2015 dalam momen peringatan
Konferensi Asia-Afrika, dapat disampaikan langsung dalam forum tersebut.

Di depan IMF dan para petingginya. Isu ketidakadilan global, ketimpangan,
serta kritikan Indonesia atas dominasi negara-negara besar dalam
arsitek keuangan global, mestinya kembali disuarakan. Jika itu yang
kemarin disampaikan, pidato Presiden patut kita apresiasi.

Lebih jauh, Presiden sebenarnya dapat memanfaatkan forum tersebut untuk
mendorong agenda reformasi peran IMF dan WB yang semakin tidak relevan
di era baru ini. Juga mendorong agar emerging markets diberikan porsi
yang lebih luas dan strategis dalam organisasi IMF dan WB. (*Wakil Ketua DPR)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top