Pengawasan

Bamsoet Pertanyakan Data Produksi Jagung Versi Kementan

PARLEMENTARIA.COM– Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo mempertanyakan data yang disajikan Kementerian Pertanian (Kementan) RI terkait dengan produksi jagung Indonesia.

Data dari Kementerian Pertanian menyebutkan, produksi jagung dalam negeri 27 juta ton. Data yang dikeluarkan Kementan tersebut berbeda jauh dengan data United States Department of Agriculture (USDA) atau Kementerian Pertanian Amerika Serikat. USDA menyebutkan, produksi jagung Indonesia berkisar 10,5 juta ton.

“Perbedannya data kedua lembaga tersebut sangat mencolok. Masak perbedaannya sangat jauh, sampai 16,5 juta ton. Karena itu, data itu harus ditanyakan kepada Kementan,” kata Bambang dalam keterangannya yang diterima Parlementaria.com, Selasa (31/7).

Dikatakan politisi senior Partai Golkar tersebut, pihaknya mendorong Komisi IV DPR RI agar Kementan memberikan data produksi berdasarkan kajian terhadap produksi jagung di seluruh wilayah Indonesia.

“Ini untuk mengetahui secara pasti jumlah produksi jagung sebenarnya dan juga harus dijelaskan kepada DPR RI terkait dengan perbedaan data produksi jagung menurut USDA,” terang Bamsoet, sapaan akrab Bambang Soesatyo.

Wakil rakyat dari Dapil Provinsi Jawa Tengah ini juga mendorong Komisi IV DPR dan Komisi XI DPR agar Kementan dan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk duduk bersama dan melakukan pengolahan serta evaluasi terhadap data produksi tanaman pangan, terutama jagung.

“Harus dipastikan jumlah produksi jagung kita yang sebenarnya, sehingga dapat dijadikan data yang tepat dalam setiap pengambilan kebijakan terkait dengan sektor pangan,” tegas Bamsoet.

Kementan juga ditekankan agar lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan serta menekan harga jagung di pasar dalam negeri. Saat ini persediaan jagung mengalami peningkatan. Menurut data dari Kementan, produksi jagung tahun 2018 mencapai 28,6 juta ton, dari tahun sebelumnya 27,95 juta ton.

“Selain validasi data bersama BPS, DPR RI minta agar Kementan bisa memgendalikan harga pangan. Salah satunya dengan membuat regulasi agar harga jagung tidak dipermainkan para spekulan,” demikian Bambang Soesatyo. (art)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top