Pengawasan

Gizi Buruk di Maluku, Bamsoet Minta Pemerintah Segera Kirim Bantuan Pangan

PARLEMENTARIA.COM– Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo (Bamsoet) minta pemerintah terutama Kementerian terkait termasuk TNI dan Pemerintah Daerah setempat segera mengirimkan bantuan pangan ke Desa Maneo Rendah, Kecamatan Seram Utara Timur Kobi, Provinsi Maluku yang terkena bencana kelaparan.

Seperti diberitakan, tiga warga meninggal dunia akibat Kejadian Luar Biasa (KLB) kelaparan yang melanda wilayah pedalaman Pulau Seram, tepatnya di kaki Gunung Murkele Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.

Bencana kelaparan melanda warga dari Komunitas Adat Terpencil (KAT), Suku Mausu Ane di Petuanan Negeri Maneo Rendah. Dari informasi yang diterima dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maluku Tengah, tiga warga Suku Mausu Ane meninggal akibat kelaparan, dua diantara mereka masih Balita. Bencana ini telah terjadi sejak 7 Juli 2018.

Dikatakan Bamsoet, masyarakat yang terkena bencana kelaparan ini membutuhkan makanan pokok, perlengkapan tidur, obat-obatan dan paket kebutuhan anak. “Karena itu, DPR mendorong Kementerian Dalam Negeri melalui Pemerintah Daerah (Pemda), Kemensos, Kemenkes segera turun,

Selain itu, Pemda termasuk Dinas Kesehatan (Dinkes) setempa segera melakukan pendataan secara menyeluruh dengan meninjau langsung ke pemukiman Suku Mausu Ane, guna mendapatkan data valid penderita busung lapar/gizi buruk dan berkomitmen memberikan asupan gizi yang terbaik terhadap korban guna memulihkan kondisi mereka.

Kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR), Bamsoet meminta berkoordinasi dengan Pemda Provinsi Maluku (Bupati Maluku Tengah) dan BPBD melakukan kunjungan langsung ke daerah tersebut untuk mengidentifikasi kondisi lapangan serta mengambil langkah dalam mengatasi keadaan.

Bamsoet juga menghimbau seluruh Kementerian, Lembaga dan Pemda saling berkoordinasi terkait penanganan busung lapar ini dan menjamin kecukupan gizi untuk penderita yang terdampak dengan menggalakan imunisasi dan pemberian makanan sehat dan bergizi.

Seperti diberitakan, BPBD Maluku Tengah menyebutkan, kelaparan terjadi akibat kekurangan bahan makanan. Ada sekitar 170 jiwa warga yang menderita kelaparan. Sedangkan korban meninggal terjadi 7 Juli lalu. “Masyarakat mengalami busung lapar dan gangguan kesehatan karena kekurangan bahan pangan,” kata Kepala Seksi Logistik BPBD Maluku Tengah, Syahril Tuakia, Selasa (24/7).

Untuk menghindari kelaparan, selama kurang lebih dua minggu atau sejak awal Juli 2018, 45 kepala keluarga dengan 175 jiwa warga adat Mausu Ane ini hidup dengan nomaden atau berpindah-pindah tempat.

Secara geografis, Suku Mausu Ane menempatitiga lokasi terpisah di bantaran tiga sungai. Yakni di Sungai Kobi, Laihaha dan Tilupa. Suku Mausu ini juga memiliki tradisi berpindah lokasi jika terdapat anggota komunitas yang meninggal dunia. Tak heran jika lokasi tinggal mereka sulit dijangkau sebab tersebar di dalam hutan. (art)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top