Pengawasan

Anang: Tragedi Garut Alarm Untuk Bangsa Indonesia

PARLEMENTARIA.COM– Tragedi tewasnya pelajar kelas enam salah satu Sekolah Dasar (SD) di Garut di tangan temannya di Garut sungguh menyesakkan dada. Apalagi pemicunya soal sepele, gara-gara kehilangan buku.

“Peristiwa ini harus menjadi alarm bagi kita semua tentang persoalan mentalitas anak-anak kita. Aparat penegak hukum harus mengungkap secara detail apa penyebab dan pemicu peristiwa tersebut,” kata anggota Komisi X DPR RI, Anang Hermansyah kepada Parlementaria.com di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (26/7).

Saya, ungkap wakil rakyat dari Daerah Pemilihan Provinsi Jawa Timur IV tersebut, meminta Polisi menggandeng pihak psikolog anak untuk mengetahui secara psikis mengapa anak kelas enam SD memiliki pikiran dan tindakan melukai hingga menghilangkan nyawa temannya.

Kita, jelas Anang yang sebelum menjadi wakil rakyat berprofesi sebagai musisi ini, harus menjadikan peristiwa di Garut itu untuk melakukan pembenahan secara menyeluruh di sektor anak.

Dikatakan, Peraturan Presiden (Perpres) No: 87/2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter belum berhasil dilakukan pemerintah. Perpres tersebut hanya baru di atas kertas tetapi implementasi di lapangan belum berjalan.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) semestinya secara ajeg (tekun atau disiplin-red) menjalankan Perpres tersebut dengan berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah (Pemda).

Orang tua dan guru, lanjut laki-laki kelahiran Jember 18 Maret 1960 tersebut, harus lebih intens mengawal proses tumbuh kembang anak-anak khususnya di usia sekolah dasar dan menengah.

Persoalan tontotan televisi juga harus dipastikan tidak berisi aksi kekerasan yang memicu anak-anak yang menonton menirunya. Game online melalui gadget harus terbebas dari paparan permainan yang berisi kekerasan. Kementerian Komunikasi dan Informatika harus mensterilkan ranah digital kita agar pro terhadap tumbuh kembang anak yang baik.

Saya meminta Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan untuk melakukan langkah besar terkait persoalan yang terjadi di Garut ini. Koordinasi antarinstansi kementerian dan lembaga harus mampu membuat peta jalan untuk memastikan masa tumbuh kembang anak-anak kita berjalan dengan baik. “Peristiwa di Garut adalah alarm nyata buat kita semua,” demikian Anang Hermansyah.

Seperti diberitakan sejumlah media sosial (medsos), bocah kelas 6 SD berinisial FNM di Kecamatan Cikajang, Garut, tewas dengan luka sabetan benda tajam. Dia diduga tewas setelah berkelahi dengan teman sekelasnya, HKM.

Kapolsek Cikajang, AKP Cecep Bambang membenarkan hal itu. Cecep mengatakan, kejadian itu terjadi, Jumat (20/7). ” HKM kehilangan buku, kemudian keesokan harinya (Sabtu 21/7) buku yang hilang itu ada di bawah meja belajar FNM.

“Selepas pulang sekolah, HKM menuduh FNM yang mencuri bukunya sehingga terjadi pertikaian,” ujar Cecep kepada wartawan di kantornya, Jalan Raya Cikajang-Garut, Cikajang, Selasa (24/7).

Perkelahian dua bocah tersebut terjadi sepulang sekolah di kawasan Kampung Babakan Cikandang. Saat perkelahian berlangsung, sambung Cecep, Hkm mengeluarkan gunting yang ia bawa di tasnya kemudian mengarahkan gunting itu ke arah FNM. “Korban mengalami luka di kepala dan punggung,” kata Cecep.

Setelah perkelahian tersebut, pihak keluarga sempat membawa FNM ke RS Garut untuk mendapatkan perawatan intensif. Namun sayang, nyawa bocah tersebut tak mampu terselamatkan. FNM meninggal Minggu (22/7) siang di RS Garut.

Kasus itu ramai diperbincangkan. Seorang warganet mengunggah foto-foto korban ke media sosial. Polisi yang mengetahui hal tersebut langsung turun ke lokasi untuk melakukan penyelidikan. Petugas terpaksa jemput bola karena hingga saat ini pihak keluarga tak berani melapor. “Untuk sementara kami menyita baju seragam milik korban serta gunting yang diduga dipakai untuk menghabisi nyawa korban,” ujar Cecep. (art)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top