Polhukam

Masuki Tahun Politik 2019, Ferry Minta Alumni HMI Tidak Pecah dan Ikut Kampanye Hitam

PARLEMENTARIA.COM– Politisi senior Ferry Mursyidan Baldan minta agar alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tidak terpecah belah atau tercerai berai akibat berbeda pilihan pada Pemilu Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) mendatang.

Sebagai alumni senior HMI yang sudah malng melintang dalam politik, Ferry juga mengingatkan alumni HMI dalam tahun politik ini jangan terikut arus kampanye hitam (black campaign) sehingga kesatuan alumni terganggu.

“Jangan gara gara lima menit memilih suara di TPS kita tercerai berai,” kata senior HMI Fery Mursyidan Baldan memberi tausiyah pada Silaturahmi dan Halal bihalal Alumni HMI di Masjid Sunda Kelapa Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (22/7).

Ferry yang beberapa periode dipercaya sebagai wakil rakyat dari Partai Golkar ini mengatakan, dalam melakukan peran dan kiprah pada kontestasi figur seperti Pilkada dan Pilpres, harus ditumbuhkan kesadaran untuk hadirnya moralitas politik dalam melakukan pilihan bagi dirinya dan etika dalam memandang pilihan orang lain khususnya sesama Alumni.

Dikatakan Ketua Pengurus Besar (PB) HMI 1990-1992 ini mengatakan, moralitas politik dalam melakukan pilihan adalah nilai dan basis argumen dalam melakukan pilihan sebagai bagian dari mission HMI. Sedangkan etika politik dalam melihat pilihan alumni lain yang berbeda adalah dengan menghormati pilihan yang berbeda tersebut.

“Kita Harus bisa menerima tanpa memberi penilaian terhadap pilihan yang berbeda dan kita juga tidak menjelekkan (Black Campaign) terhadap figur yang tidak menjadi pilihan kita,” kata Ferry yang sempat dipercaya Presiden Jokowi menduduiki kursi orang nomor satu di Kementerian Agraria Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) tersebut.

Justru ruang interaksi dengan pilihan figur yang berbeda harus diisi dengan berlomba menampilkan sisi baik figur pilihan masing-masing tanpa memberi penilaian. Sebagai Alumni HMI, maka Silaturahmi Pasca HMI justru akan menjadi ruang politik yang sehat dan mencerdaskan, bukan justru menjadi ruang politik yang sekedar mengekspresikan “Like and Dislike” semata, sambungnya.

“Hal itu justru menyurutkan support alumni bagi kandidat pilihannya. Karena memang sudah berbeda pilihan, pilihan tidak mungkin berubah, tapi potensi permusuhan yang mengganggu silaturahmi pasti terjadi. Dukungan tidak didapatkan, orang tetap pada pilihannya dan silaturahmi menjadi berjarak, jika tidak mau dikatakan tercederai,” demikian Ferry Mursyidan Baldan. (art)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top