Polhukam

Imam Besar Istiqlal Mengaku Pernah Diundang Pemerintah Israel

PARLEMENTARIA.COM– Bukan hanya Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Yahya Cholil Staquf yang diundang Yahudi-Amerika mengisi acara di Israel, Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof Dr Nasaruddin Umar sebelumnya juga pernah menerima undangan serupa.

Namun, yang bersangkutan menolak undangan tersebut. “Sebagai tokoh maupun pengurus Majelis Ulama Indonesia dan PB NU, Yahya Staquf seharusnya berhati-hati menjalin komunikasi, apalagi dengan Israel,” ungkap Nasaruddin di Gedung Kementerian Agama (Kemenag), Kamis (14/6) malam.

Dijelaskan, alasan itu dia kemukakan karena sebagai tokoh suatu organisasi, atribut-atribut sosial tersebut akan tetap melekat pada diri Staquf, sehingga meski Staquf melakukan kunjungan atas nama dirinya sekalipun, pandangan masyarakat terhadap Staquf yang dianggap tokoh PBNU akan tetap melekat.

“Ya atribut sosial itu jangan dihilangkan ya. Kalau ditanggapi masyarakat, kita nanti kecewa ada seseorang yang berdoa setiap malam, tapi ada juga yang datang menjalin komunikasi seperti itu. Walaupun tujuannya bagus, tapi masyarakat itu kan nanti susah diberi penjelasan,” kata Nasaruddin.

Nazaruddin bercerita, sering menerima undangan dari pemerintah Israel untuk melakukan kunjungan. Namun, karena keteguhan hatinya untuk menjaga perasaan umat Islam, di samping prinsipnya sendiri, dIa mengurungkan niat untuk memenuhi undangan tersebut.

“Satu langkah pun saya enggak mau, padahal perbatasannya depan saya kan. Saya pikir-pikir, kalau saya sih enggak ada yang tahu kalau saya masuk ke situ, tapi saya tidak ingin mengkhianati diri. Kalau saya, ke sana berarti kasihan saudara-saudara di Indonesia yang berdoa. Saya mengatakan masa saya harus melangkahkan kaki ke situ,” ungkap dia.

Meski begitu, Nasaruddin menilai, ada sisi positif yang harus dilihat dari kunjungan Staquf ke Israel untuk memenuhi undangan sebagai pembicara di konferensi forum global American Jewish Committee.

Dimana Staquf menyatakan bahwa kehadirannya di sana memperjuangkan kemerdekaan rakyat Palestina. “Dari pada kita teriak-teriak di jalan, di sini, di kedutaan Amerika atau di mana-mana enggak ada yang dengar, nah kalau kita teriak di depan telinganya presiden, perdana menterinya di situ kan ya, kan ada ayatnya kan laa tad khulu min baabin wahid, jangan masuk dalam satu-satunya pintu tapi masuklah pada pintu-pintu yang berbeda-bedakan,” demikian Nasaruddin Umar. (art)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top