Polhukam

Dalam Kunjungan ke Israel, Yahya Foto Bersama Dengan Perdana Menteri Israel

PARLEMENTARIA.COM– Kontroversi kehadiran anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) Yahya Cholil Staquf mengisi acara Yahudi-Amerika di Israel terus bergulir.

Berbagai kritik dan kecaman mulai dari para wakil rakyat sampai ke tokoh masyarakat terus diarahkan kepada anggota Watimpres tersebut. Bahkan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, Ma’ruf Amien mengatakan, kepergian Tahya Cholil Staquf ke Israel tidak ada kaitannya dengan MUI.

Rupanya, Yahya Syaquf tidak hanya mengisi acara Yahudi-Amerika di Israel tetapi justru juga bertemu dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Hal itu terungkap dalam postingan Netanyahu di akun Twitter resminya, @netanyahu, Kamis (14/6).

Seperti diberitakan salah satu media online, ada dua foto dalam postingan tersebut. Foto pertama, Yahya terlihat bersalaman dengan tokoh kelahiran Tel Aviv, Israel, 21 Oktober 1949 itu dan foto kedua Juru Bicara Presiden Gus Dur ketika menjadi Presiden berfoto bersama dengan Netanyahu dan sejumlah jajaran stafnya.

Seperti ditulis media online itu, Netanyahu menyebut pertemuannya dengan salah satu petinggi organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama, itu sebagai momen yang istimewa. Karena itu, dia tidak segan-segan mengungkapkan kegembiraannya.

“Pertemuan spesial hari ini di Yerusalem dengan Yahya Cholil Staquf, Sekretaris Jenderal organisasi Islam dunia, Nahdlatul Ulama. Saya sangat senang melihat negara-negara Arab dan banyak negara-negara muslim semakin dekat dengan Israel,” tulis Netanyahu.

Pada kesempatan terpisah, Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera menyatakan, Presiden Joko Widodo harus bertanggung jawab atas kunjungan Anggota Wantimpres dan tokoh Nahdatul Ulama (NU) Yahya Staquf ke Israel.

“Saya menyesalkan Presiden Jokowi membiarkan kunjungan Wantimpres Saudara Kyai Yahya Staquf Ke Israel. Ini sangat menciderai proses perjuangan bangsa Palestina atas kemerdekaannya,” kata Mardani di Jakarta, Rabu (13/6).

Inisiator gerakan #2019GantiPresiden itu juga mengatakan, Indonesia sejak dulu memiliki kebijakan yang konsisten untuk tidak mengakui Israel sebagai negara dan mendukung perjuangan rakyat Palestina mendapat kemerdekaan.
“Kehadiran seorang Wantimpres dalam undangan itu secara tidak langsung merusak perjuangan Indonesia dari dulu,” kata Mardani.

Wakil Ketua Komisi II DPR ini mengatakan, kekecewaan ini juga sangat terasa dalam respon yang diberikan oleh Fatah, Hamas dan masyarakat Palestina.
“Mereka juga kecewa atas kunjungan Mr. Staquf ke Israel, terlebih lagi baru saja terjadi tragedi demontrasi berdarah yang menelan korban jiwa sebanyak 124 orang palestina oleh Israel.”

Lebih jauh, pria asli Betawi ini juga mengatakan, seharusnya Presiden Jokowi sebagai pimpinan bisa mencegah upaya yang bisa merusak perjuangan ‘founding fathers’. “Presiden mestinya tidak boleh lepas tangan begitu saja. Mau atas nama pribadi atau pun negara, kan bisa dihitung dulu resikonya?,” geramnya.

Menurutnya, akibat pembiaran oleh Presiden ini, posisi Indonesia sebagai pendukung Palestina menjadi buyar. “Sikap Indonesia yang dari dulu dikenal dunia mendukung kemerdekaan Palestina itu jelas dan tidak ada tawar-menawar untuk itu, namun semuanya buyar karena pembiaran ini!” terangnya.

Wakil rakyat dari Dapil Jawa Barat VI ini berharap, Presiden Jokowi segera menyampaikan permohonan maaf atas kekeliruan anggota Wantimpresnya kepada bangsa Palestina yang sudah sejak lama menjadi sahabat rakyat Indonesia. “Jangan rusak perjuangan founding fathers kita memperjuangkan hak bangsa Palestina untuk merdeka,” demikian Mardani Ali Sera. (art)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top