Polhukam

Titiek Soeharto Hengkang, M Jamiluddin Ritonga: Suara Golkar Bakal Tergerus

PARLEMENTARIA.COM– Hengkangnya Siti Hediati Hariyadi alias Titiek Soeharto ke Partai Berkarya menjelang pemilihan legislatif dan presiden 2019 merupakan kerugian buat Partai Golkar. Bahkan suara Golkar bakal tergerus.

Bagaimana tidak, kata pakar komunikasi politik Universitas Esa Unggul Jakarta, M Jamiluddin Ritonga kepada Parlementaria.com, Rabu (13/6), satu kursi Partai Golkar dari keluarga Cendana tersebut dipastikan hilang.

Selain itu, lanjut M Jamiluddin, pemilih-pemilih Golkar masa Orde Baru terutama pendukung fanatik Presiden Soeharto juga bakal lari dari Partai Golkar. Artinya, mereka bakal meninggalkan partai berlambang Pohon Beringin ini pada pemilu serentak 17 April tahun depan.

Perlu diketahui, jelas dia, pendukung fanatik penguasa Orde Baru ini tidak hanya di Yogjakarta atau Solo, Jawa Tengah saja, tetapi tersebar di berbagai daerah di tanah air.

Apalagi melihat kondisi bangsa dan negara dalam empat tahun belakangan ini, dimana sebagian besar masyarakat Indonesia merasakan betapa sulitnya perekonomian mereka akibat kebijakan-kebijakan pemerintah yang mereka nilai tidak pro rakyat.

Selain harga kebutuhan pokok yang tidak stabil akibat pemerintah menyerahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar, kenaikkan Bahan Bakar Minyak (BBM) terasa mencekik dan Tarif Dasar Listrik (TDL) yang setiap beberapa bulan mengalami kenaikkan juga menjadi persoalan tersindiri.

Jadi, pengaruh Cendana masih kuat di masyarakat, khususnya para pemilih yang sudah berumur. “Saya melihat, belakangan ini masyarakat mulai rindu kepada pemerintahan Orde Baru. Karena merasa tidak diperjuangkan Partai Golkar, mereka bakal hengkang sebagai pemilih Partai Beringin, memberikan suaranya ke partai lain,” kata Jamiluddin.

Persoalan lain adalah tidak tersedianya lapangan kerja buat masyarakat ditambah masuknya Tenaga Kerja Asing *TKA) khususnya asal China yang merampas kesempatan kerja para pekerja lokal menjadi persoalan tersendiri.

“Dengan tak ada lagi trah Cendana, dikhawatirkan mereka ini mengalihkan suaranya dari Golkar. Karena itu, suara Golkar untuk kursi DPR RI bakal berkurang. Setidaknya, untuk mendulang suara dua besar akan sulit bagi Golakr pada Pileg 2019,” jelas dia.

Partai Golkar dinilai tidak lagi menganggap penting trah Soeharto. Hal itu diyakini menjadi pemicu Titiek Soeharto hengkang ke Partai Berkarya yang dipimpin putra byngsu Presiden Soeharto, Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto.

“Menurut saya karena kepengurusan Golkar yang baru saat ini tidak akomodatif terhadap Mbak Titiek yang notabene merupakan anak biologis Presiden Soeharto, pendiri Golkar,” kata pengamat politik Universitas Jayabaya, Igor Dirgantara, Selasa (12/6).

Dikatakan, sebenarnya Titiek Soeharto sejak awal ingin maju sebagai calon Ketua Umum Partai Golkar pada Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) beberapa bulan lalu. “Tetapi lobby politik akhirnya mengurungkan niatnya yang menghasilkan suara bulat mendukung Airlangga Hartarto.”

Setelah Munaslub, Titiek Soeharto diketahui dijanjikan bakal mendapatkan posisi Wakil Ketua MPR menggantikan Mahyudin. Akan tetapi, kata dia, hingga kini janji tersebut tidak juga bisa terwujud.

“Hal ini mengindikasikan bahwa Golkar baru saat ini memang tidak cukup menghargai dan menganggap penting lagi trah Soeharto berada di dalam kepengurusan Golkar yang sekarang ini,” jelas dia.

Buktinya, kata dia, Titiek Soeharto tidak mendapatkan posisi strategis di kepengurusan Partai Golkar saat ini. “Karena juga khawatir tidak sejalan dengan kebijakan Partai Golkar yang bulat mendukung Presiden Jokowi dua periode,” kata Igor. (art)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top