Opini

Demokratisasi Harus Berpijak pada Akar Budaya Nasional  

Oleh Bambang Soesatyo* –
DEMOKRATISASI tidak boleh mengeliminasi semua akar budaya nasional. Jangan juga menunggangi kebebasan berbicara, termasuk mengritik, untuk merusak rasionalitas publik. Akar budaya nasional tentang kesantunan dan rasionalitas harus tetap tegak agar harmoni dalam hidup berbangsa dan bernegara yang sudah terwujud tidak rusak.
Sangat penting bagi semua elemen masyarakat untuk saling mengingatkan lagi akan urgensi merawat perilaku ramah dan santun yang sejatinya adalah akar budaya nasional. Dari perilaku ramah dan santun yang melekat pada semua suku dan golongan itulah terbangun pondasi harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara.
Keramahan dan semangat saling menghormati itu mendorong masyarakat Indonesia mewujudkan saling pengertian dalam menyelesaikan banyak persoalan atau musyawarah untuk mufakat. Jangan lupa bahwa sejak dahulu, komunitas internasional sudah menerima fakta tentang keramahan dan kesantunan sebagai ciri khas masyarakat Indonesia. Selain santun, masyarakat Indonesia juga dikenal sebagai komunitas yang agamis dan bersemangat gotong royong.
Kini, demokratisasi pada semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara boleh saja terus berproses. Tetapi, semua tahapan proses demokratisasi itu tidak boleh merusak akar budaya nasional, utamanya keramahan dan kesantunan itu. Masyarakat Indonesia tidak boleh tercerabut dari akar budayanya sebagai salah satu elemen penting kehidupan.
Kalau masyarakat dibiarkan mengingkari akar budayanya, yang akan terjadi adalah disharmoni. Masing-masing merasa paling benar dan ingin menang sendiri. Disharmoni yang berlarut-larut – apalagi jika salah kelola – akan menimbulkan kerusakan yang bisa saja sulit dikalkulasi.
Ada relevansinya jika setiap elemen masyarakat mengingatkan lagi akan pentingnya untuk selalu berpijak pada akar budaya nasional yang telah ditanamkan dari generasi ke generasi oleh para leluhur.
Lunturnya keramahan dan kesantunan sebagai ciri khas bangsa sudah dirasakan dalam satu-dua dekade terakhir. Persoalan ini bahkan sering menjadi materi obrolan di berbagai kesempatan.
Di ruang publik, masyarakat kehilangan panutan. Akhir-akhir ini, perilaku sejumah figur publik sama sekali tidak mencerminkan sosok yang ramah dan santun. Memilih kata-kata kasar saat merilis pernyataan publik. Tak hanya menyerang komunitas atau lembaga lain, tetapi juga individu serta mempertontonkan sikap bermusuhan dan nafsu menghancurkan.
Bahkan tanpa disadari, muncul semangat merasa diri dan lembaganya paling hebat. Paling bersih dan sikap arogansi yang berlebihan. Sikap ini sangat berbahaya dan jauh dari budaya santun Indonesia. (*Ketua DPR RI)
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top