Pengawasan

Hafisz Tohir: Sumbar Bisa Dijadikan Referensi Pengendalian Inflasi

PARLEMENTARIA.COM– Diperlukan strategi yang tepat dan langkah nyata untuk mengendalikan tingkat inflasi di daerah-daerah. Provinsi Sumatera Barat bisa dijadikan referensi dalam penanganan pengendalian inflasi di daerah.

“Inflasi itu berkaitan dengan supply and demand dan ini tak bisa kita hindari sehingga harus terus dikendalikan. Sumbar bisa kita jadikan referensi dalam penganganan pengendalian inflasi di daerah,” kata Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Achmad Hafisz Tohir saat memimpin Kunjungan Kerja Komisi XI DPR RI ke Sumatera Barat baru-baru ini.

Dalam kesempatan itu, rombongan wakil rakyat ini meninjau pengendalian inflasi daerah ini, Komisi XI DPR RI menggelar pertemuan dengan Bank Indonesia Perwakilan, Badan Pusat Statistik dan Pemerintah Provinsi Sumbar.

Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut mengatakan, walau inflasi terjaga, tetapi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) masih belum tajam untuk melakukan tugas dan fungsinya secara maksimal, guna menghilangkan para pemain atau oknum yang membuat pasokan barang-barang menjadi langka.

“TPID akan gagal mengeksekusi kebijakan-kebijakan terkait inflasi bila harga-harga memang benar-benar sudah tidak terkendali, karena TPID belum ada kekuatan anggaran yang memadai dan payung hukum untuk mempengaruhi pasar,” imbuh Hafisz.

Dalam kesempatan yang sama, Anggota Komisi XI DPR RI Ecky Awal Mucharam mengakui, pemaparan jajaran Pemprosv Sumbar kepada Komisi XI DPR RI dinilai telah berhasil menghilangkan faktor-faktor supply and demand, khususnya pada barang-barang yang termasuk volatile food.

“Faktor inflasi yang susah dikendalikan hanya menyangkut administrate price, yakni harga-harga yang telah ditetapkan karena konsekuensi dari harga pusat, diantaranya Tarif Dasar Listrik (TDL), Bahan Bakar Minyak (BBM), tiket pesawat dan elpiji gas. Saya mengapresiasi TPID dan Pemprov yang berhasil menekan volatile food-nya,” papar politisi PKS itu.

Lebih lanjut, Ecky menekankan pentingnya pengendalian inflasi terutama pada saat bulan Ramadan dan menghadapi Hari Raya Idul Fitri, dimana biasanya terjadi tingginya konsumsi masyarakat terhadap barang-barang.

“Komoditas utama penyumbang inflasi bulanan di Sumbar adalah cabai merah, bensin, mie, daging has, dan bawang merah. Harga-harga komoditas ini perlu dikendalikan harganya. Kalau tidak, akan membuat konsumsi rumah tangga dan industri menurun, yang akibatnya menimbulkan keresahan di masyarakat,” demikian Ecky Awal Mucharam. (art)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top