Kesra

BAZNAS Kaji Had Kifayah

PARLEMENTARIA.COM – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menggelar kajian mengenai had kifayah. Had Kifayah yakni batas kecukupan atau standar dasar kebutuhan seseorang atau keluarga ditambah dengan kecukupan tanggungan yang ada sebagai upaya menetapkan kelayakan penerima zakat (mustahik) fakir dan miskin sesuai kondisi wilayah dan sosio-ekonomi setempat.

 

Menurut Direktur Pusat Kajian Strategis BAZNAS, Irfan Syauqi Beik, diskusi mengenai ini telah lama dilakukan para ulama dan pakar dalam berbagai literatur yang beragam. Namun hingga kini, Indonesia belum pernah memiliki nilai had kifayah yang terukur dengan jelas dan objektif. “Karena itu, kajian had kifayah yang dilakukan Puskas BAZNAS dapat dijadikan acuan dalam penyaluran zakat di Indonesia,” ujar Irfan Syauqi Beik saat diskusi publik di Jakarta, baru-baru ini.

 

Irfan Syauqi menjelaskan, Penilaian yang dilakukan untuk menentukan batas kecukupan had kifayah, meliputi tujuh dimensi, yaitu: makanan, pakaian, tempat tinggal dan fasilitas rumah tangga, ibadah, pendidikan, kesehatan dan transportasi.

 

Ketujuh dimensi ini didasarkan pada analisis kebutuhan hidup layak dalam perspektif maqasid syariah. Nilai had kifayah ditentukan per keluarga, dengan asumsi rata rata setiap keluarga terdiri 4 orang yakni suami, istri, satu anak usia sekolah dasar (SD), dan satu anak usia sekolah menengah pertama (SMP)

 

Dia menambahkan, asumsi jumlah rata rata anggota keluarga ini, berdasarkan survei yang telah dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS). Sedangkan penentuan tingkat pendidikan mengacu pada peraturan wajib belajar yang telah ditetapkan pemerintah.

 

Irfan juga mengatakan, di Malaysia, Lembaga Zakat Selangor (LZS) Malaysia telah lama menggunakan standar had kifayah (HK) ini sebagai dasar penyaluran zakat di wilayah setempat. Meski demikian, terdapat perbedaan metode penghitungan antara had kifayah di kedua institusi tersebut.

 

“Menghitung had kifayah berdasarkan jumlah pengeluaran setiap keluarga, sedangkan metode yang digunakan Puskas Baznas adalah dengan memperhitungkan biaya dasar yang dibutuhkan sebuah keluarga untuk bertahan hidup,” jelasnya.

 

Sementara itu, anggota BAZNAS Nana Mintarti memaparkan terkait rekomendasi, dijelaskan bahwa rekomendasi penetapan mustahik untuk program pendistribusian dan pendayagunaan berbasis nilai had kifayah ini, masih bersifat terbuka, tergantung dari tempat dan kondisi mustahik berada.

 

Dalam menentukan setiap kategori, baik mustahik dalam area pendistribusian maupun pendayagunaan, juga diperlukan penilaian lebih jauh dan komprehensif, dengan memperhatikan instrumen instrumen lain seperti Indeks Zakat Nasional (IZN) dan Indeks Desa Zakat (IDZ) yang telah ditetapkan BAZNAS,” ujar Nana. (ks)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top