Polhukam

IPW Nilai Aksi Bom Di Surabaya Kelengahan Polda Jawa Timur

PARLEMENTARIA.COM– Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane prihatin dengan peristiwa terorisme yang terjadi berturut turut seminggu terakhir di Indonesia.

Apalagi sasaran pelaku bom bunuh diri tidak hanya aparatur keamanan tetapi juga masyarakat yang sedang beribadah. Rentetan aksi teror beruntun ini seolah membuat aparatur kepolisian tidak berdaya menghadapi serang teroris.
Dalam kasus teror bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya misalnya, ungkap Neta, kalangan intelijen sebenarnya sudah mencium adanya pergerakan dan pergeseran sekitar 57 orang yang dicurigai sebagai teroris.

Mereka bergeser dari daerahnya masing masing menuju Jakarta. Mereka berasal dari Pekanbaru, Tegal, Karawang, Indramayu, Cirebon, dan Tasikmalaya. Pergeseran ini berhasil dipantau intelijen.

Namun, Kelompok Suki dari Cirebon menghilang dari ‘radar’ intelijen. “Jadi, tidak jelas apakah Kelompok Suki yang melakukan teror di Surabaya atau tidak,” kata Neta dalam keterangan pers yang diterima awak media.

Yang pasti, lanjut dia, kepolisian sudah melakukan pagar betis mengantisipasi aksi kelompok teror ini. Sayangnya pagar betis kepolisian ini kebobolan. Para teroris melakukan serangan bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya.
Sejumlah orang jadi korban.

IPW sangat prihatin dengan peristiwa ini dan berharap Polri segera memburu otak jaringan teroris ini dan menggulungnya dengan tuntas. IPW berharap, jajaran kepolisian di daerah maupun kalangan intelijen kepolisian meningkatkan kepekaannya. Deteksi dini dan antisipasi dini perlu dilakukan terus menerus.

Kasus serangan tiga bom bunuh diri di Surabaya tak terlepas dari kelengahan jajaran Polda Jatim. Soalnya, pasca kerusuhan di Rutan Brimob kalangan intelijen sudah melihat adanya pergerakan jaringan teroris.

Pergerakan itu makin masif pada Jumat siang hingga malam hari dimana kalangan intelijen menyebutkan adanya 57 anggota teroris dari enam daerah bergeser, terutama ke ibukota Jakarta. Beberapa di antaranya berhasil diciduk di wilayah Polda Metro Jaya.

Sayangnya Polda Jatim kebobolan dan para teroris beraksi di tiga gereja. Menyerang masyarakat yang sedang beribadah. Kasus serangan bom bunuh diri di Surabaya inipun menambah panjang daftar peristiwa teror di negeri ini yang otomatis membuat masyarakat makin cemas, apalagi sebentar lagi masyarakat akan memasuki bulan Ramdhan.

Untuk itu Polri harus segera menangkap dan mengungkap otak pelaku serangan teror ini agar masyarakat bisa tenang saat melaksanakan ibadah Ramadhan.

Pada kesempatan terpisah, politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mardani Ali Sera mengatakan, aksi terorisme bertentangan dengan ajaran agama Islam maupun agama lain yang ada di Indonesia. Karena itu, dia mengutuk aksi ini.
Namun, anggota Komisi II DPR RI ini mengingatkan agar masyarakat waspada terhadap politisas aksi ini. “Pasti akan dipolitisasi pihak-pihak tertentu kalau penegakkan hukum tidak profesional dan tansparan.” (art)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top