Polhukam

Pasca Kerusuhan, IPW Minta Kembalikan Rutan Brimob Kepada Fungsi Semula

PARLEMENTARIA.COM– Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane mengapresiasi langkah penyelesian kekacauan dan penguasaan Rumah Tahanan (Rutan) Brimob Kelapa Dua Depok, Jawa Barat oleh tahanan teroris, Rabu (9/5).

“Apalagi penyelesaian tidak ada korban luka maupun tewas. Bahkan tahanan teroris berhasil dipaksa menyerah tanpa syarat,” kata Neta dalam keterangan persnya yang diterima Parlementaria.com, Kamis (10/5).

Hadirnya Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Panglima TNI dan pejabat lainnya di Mako Brimob menunjukkan sikap soliditas aparatur pemerintah yang memberi dukungan kepada Polri untuk menyelesaikan kasus itu secara profesional. Ke depan, jangan terulang lagi kasus serupa.

Bubarkan Rutan Brimob dan kembalikan kepada fungsi semula, yakni tempat menahan anggota Brimob nakal. Selama ini tanggungjawab pengelolaan Rutan Brimob adalah Bareskrim, sementara tanggungjawab lokasi adalah Korbrimob sehingga setiap hal negatif, yang dapat sorotan adalah Korbrimob sebagai pasukan elit Polri.

Jangan mengumpulkan tahanan teroris dalam jumlah besar dalam satu tempat, apalagi jumlah sipirnya terbatas seperti di Rutan Brimob. Polri perlu mengevaluasi semua tempat penyimpanan senjata api agar tidak mudah dikuasai pihak lain.
Dari pantauan IPW, banyak tempat penyimpanan senjata Polri tidak representatif. Di Polsek Polsek misalnya, senjata api Laras panjang, rata rata tiga unit, hanya diletakan di bawah meja dan ditutupi triplek atau tutup seadanya. Terutama jika tengah malam, umumnya petugas piket tidur dan senjatanya terbiarkan meski terikat rantai.

Mentalitas sipir yangmudah disuap perlu diubah. Sebab dengan uang suap hampir semua tahanan di negeri ini, termasuk tahanan teroris bisa memasukkan alat komunikasi dan sangat ironis ketika terjadi kekacauan di Rutan Brimob para tahanan teroris bisa melakukan live lewat medsos.

“Polri juga harus tegas untukmencopot semua pejabat yang bertanggungjawab. Sebab akibat kecerobohan mereka dan tidak adanya pengawasan simultan yang mereka lakukan terjadi kekacauan di Rutan Brimob yang membuat lima polisi dibunuh tahanan teroris,” demikian Neta S Pane. (art)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top