Polhukam

Kapolri: Kalau Bandar Narkoba Melawan, Tembak Saja

PARLEMENTARIA.COM– Narkotika dan penggunaan obat-obat terlarang (narkoba) menjadi ancaman serius bangsa Indonesia belakangan ini. Bahkan anak bangsa sepakat narkoba tidak kalah bahayanya dibanding kejahatan terorisme dan suap atau korupsi.

Untuk membasmi maraknya peredaran narkoba yang merusak kehidupan generasi muda Indonesia, jajaran aparat keamanan tidak hanya sekadar hampir setiap hari melakukan dan menangkap para nandar serta kurir narkoba.

Bahkan terakhir Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian sudah memerintahkan jajarannya untuk menindak tegas para bandar narkoba. Bahkan jika ada bandar yang melawan saat ditangkap untuk ditembak saja. “Tindak tegas pelaku. Bahkan bila ada yang melawan saat hendak ditangkap, tembak saja,” kata Tito, di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Kamis (15/2).

Pelaku harus ditindak tegas, apalagi warga asing yang mencoba menyelundupkan narkoba. “Indonesia jangan sampai diserbu dengan penyelundupan narkoba. Tindak tegas seperti yang dilakukan kemarin. Warga negara asing apalagi, enggak boleh mereka menyerbu Indonesia dengan narkoba,” kata dia.

Dikatakan, upaya memerangi narkoba mulai dari kampanye pencegahan untuk mengurangi permintaan. Serta razia tempat hiburan malam. Karena itu, daerah rawan harus dipantau agar peredaran narkoba tidak menimbulkan banyak korban.

“Kampanye pencegahan dan lain-lain, termasuk di tempat hiburan yang diduga ada narkotik. Tempat yang diduga ada narkotik, jangan setiap tempat hiburan di gerebek aja,” kata jenderal bintang empat itu.

Tito mengimbau untuk masyarakat yang terkena narkoba atau sebagai pengguna untuk direhabilitasi supaya tidak terulang kembali. Tentunya perlu kerja sama antara aparat penegak hukum yang lain.

“Lalu upaya rehabilitasi untuk mereka yang terkena, itu perlu upaya komprehensif melibatkan BNN, Polri dan intansi-instansi lain memberi tahu masyarakat,” jelas dia.

Ya, memang Indonesia diserbu narkoba. Bahkan berton-ton sabu jaringan internasional beberapa hari lalu berusaha untuk diseludupkan masuk ke Indonesia. Walau setiap hari aparat berhasil menangkap bandar tetapi para gembong narkoba yang telah dihukum mati dibiarkan hidup di dalam penjara sehingga tidak jarang dari mereka mengulangi lagi perbuatannya dari balik jeruji besi.

Berdasarkan catatan, serbuan sabu dalam jumlah besar terjadi 2014 lalu. Kala itu, Wong Chi Ping membawa sabu hampir 1 ton. Setelah menjalani proses hukum selama 2 tahun, Wong bersama Ahmad Salim Wijaya dan Cheung Hon Ming dihukum mati. Namun, sampai sekarang mereka belum dieksekusi.

Sementara itu, Siu Cheuk Fung, Tan See Ting, Tam Siu Liung dihukum seumur hidup. Sujardi (20 tahun penjara), Syarifuddin (18 tahun penjara), Andika (15 tahun penjara).

Saat Indonesia diserbu ribuan kg sabu, apa langkah Jaksa Agung sebagai otoritas yang berwenang mengeksekusi mati para mafia? Pada 2016, 10 orang gembong narkoba tiba-tiba disuruh balik badan dari tiang eksekusi mati. Kesepuluh orang itu diminta kembali di sel dan urung dieksekusi mati.

Tahun lalu tidak ada gembong narkoba yang dieksekusi mati. “Kan saya sudah berulang kali bilang itu, nggak usah nanya lah..,” kata Jaksa Agung HM Prasetyo, di kantornya, Jl Sultan Hasanuddin, Jakarta Selatan, pekan lalu.

Di dalam penjara, para terpidana mati itu malah terus beroperasi menjalankan aksinya. Seperti Toge, gembong narkoba yang mengantongi 2 vonis mati dan putusan 12 tahun penjara. Ia masih bisa mengontrol 110 kg sabu dari luar negeri.
“Kalau ini lagi dihukum mati ketiga, ini hebatnya Indonesia, hukuman mati tapi orangnya tidak mati-mati,” kata Kepala BNN Budi Waseso menyikapi kasus Toge. (art)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top