Polhukam

Di Depan Guru PAUD, Ketua MPR: Jangan Ganti Sila Ketuhanan Jadi Keuangan Yang Maha Kuasa

PARLEMENTARIA.COM– Dalam kondisi seperti sekarang, orang hebat adalah mereka yang punya atau memiliki komitmen kuat untuk menjaga dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Itu dikatakan Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan saat memberikan Sosialisasi Empat Pilar MPR di hadapan ribuan guru Pendidikan Usia Dini (PAUD) se-Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi dan Tangerang (Jabodetabek) di Gedung Nusantara IV Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (15/2).

Dalam ‘Sosialisasi Empat Pilar bersama Motivator Indonesia’ juga tampak hadir antara lain Tung Dasem Waringin, Ippho, Ely Risman dan Kak Seto. “Jadi, orang hebat itu yang memiliki jabatan tinggi dan uang banyak, melainkan mereka yang berkomitmen kuat untuk NKRI. Mereka itulah sebagai pahlawan-pahlawan Indonesia saat ini,” kata Zulkifli Hasan.

Jadi, lanjut Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) itu, orang hebat adalah mereka yang memilki komitmen kuat untuk memperkokoh NKRI. “Bukan orang karena kekayaan, jabatan dan lainnya. Mereka ituah para pahlawan Indonesia,” ulang Zulkifli Hasan.

Menurut anggota Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu, Zulkifli menyebutkan, demokrasi Pancasila tersebut out put nya adalah harmoni, kesetaraan, keadilan dan kesejahteraan.

“Jadi, kalau rakyat sadar maka dalam setiap pilkada, pemilu dan pilpres, tidak ada lagi perjanjian palsu, transaksional dan politik uang. Kalau tidak, dipastikan banyak pejabat yang kena Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK, korupsi, suap menyuap,” kata wakil rakyat dari Provinsi Lampung tersebut.

Karena itu, kata Zulkifli Hasan, jangan sampai kedaulatan rakyat itu ditukar dengan politik uang, transaksional, dan perjanjan palsu. Pilihlah calon pemimpin itu karena kesadaran untuk kebaikan, pelayanan masyarakat, yang tidak korupi, berintegraitas dan bukan memilih karena uang dan transaksional.

Dimana kalau negara ini mau maju menurut Ketum PAN itu, harus ada trust, saling percaya antara lembaga negara, masyarakat, dan sebagainya. Untuk itu harus kembali kepada nilai-nilai Pancasila. “Jangan sampai Ketuhanan Yang Maha Esa diganti menjadi Keuangan Yang Kuasa.”

Dengan demikian harus kembali ke nilai-nilai luhur Pancasila, yang intinya adalah kasih sayang, gotong-royong, saling menghormati dan menghargai. “Nilai-nilai ini melampaui nilai-nilai universal yang lainnya,” tambahnya.

Selain itu saat ini ada upaya untuk memecah belah bangsa dengan mengadu-domba, mengoyak-oyak, maka harus harus dilawan. “Bahwa kita bukan bangsa yang radikal, intolerean, namun sebaliknya sejak 72 tahun silam kita sudah sepakat bersatu dalam kebhinekaan.

“Kita berbeda-beda agama, suku, budaya, ras, dan golongan. Tapi, kita satu, saling hormati-menghormati, menghargai, sehingga upaya adu-domba itu harus dilawan,” ungkapnya.

Terakhir dia mengutip pesan pahlawan pendidikan Ki Hadjar Dewantara, “Tut wuri handyani, ing ngarso sungtulodo, ing madyo mangun karso’. Sehingga guru itu sebagai pelukis masa depan anak bangsa, guru jasamu tiada tara, guru seperti matahari yang selalu menyinari tanpa pandang bulu, dan tak pernah inkar janji.’

“Jadi, selama masih ada guru, negeri ini tidak akan kelahilangan darma bhaktinya untuk bangsa. Kalau tidak, maka negara ini akan hancur,” demikian Zulkifli Hasan. (art)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top