Polhukam

Penyerangan Tokoh Agama, Kalau Pelaku Bukan Orang Gila Harus Dihukum

PARLEMENTARIA.COM – Anggota Komisi III DPR RI Erma Suryani Ranik menilai, terjadinya sejumlah kasus penyerangan kepada sejumlah tokoh agama belakangan ini membuktikan pihak kepolisian lemah dalam mengantisipasi penyerangan itu.

“Saya memantau informasi yang terjadi tentang penyerangan di rumah ibadah. Ini bukti kalau antisipasi dari pihak kepolisian begitu lemah,” ujar Erma, menjawab pertanyaan wartawan, Gedung DPR RI, Senayan, Rabu (14/2).

Menurut politisi Demokrat itu, tensi politik akan meningkat ketika menjelang Pilkada dan Pilpres. Karena itu dia menginginkan pihak kepolisian harus tanggap dan menjaga agar peristiwa seperti ini tidak berkembang secara liar di media, hingga munculnya berita hoaks yang bisa memicu konflik.

”Saya tidak ingin pihak kepolisian berleha-leha dan lengah, karena saya mencurigai penyerangan ini. Contohnya penyerangan terhadap ustadz yang dilakukan orang gila, kenapa bisa terencana, kenapa ada pola yang begitu berdekatan. Ini kalau terus-menerus tidak dilakukan antisipasi oleh penegakan hukum, nanti bisa berkembang liar,” tandas Erma.

Erma juga menyoroti peranan dari intelijen polisi yang menurutnya kurang bisa meredam kejadian kriminal kepada tokoh agama. “Kepolisian ini kan punya intelijen, kenapa masalah ini enggak bisa diantisipasi. Kita begitu miris, ini saat sedang ibadah di gereja malah diserang dengan senjata. Tolong intelijen bekerja untuk mengantisipasi ini,” tegasnya.

Dia meminta kepolisian untuk melakukan investigasi terkait penyebab dan akar masalahnya. “Selain mereka melakukan investigasi, tentu apabila ini terbukti kalau bukan orang gila, maka akan dilakukan penegakan hukum sekeras-kerasnya,” pungkasnya. (chan)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top