Ekonomi

Pansus RUU Pertembakauan Temukan Kondisi Industri Rokok Memprihatinkan

[JAKARTA]– Panitia Khusus (Pansus) Rancangan Undang Undang (RUU) Pertembakauan dalam kunjungan kerja mereka ke sejumlah daerah menemukan bahwa sejumlah industri rokok dalam kondisi sangat memprihatinkan.

“Para industri rokok di tanah air mengetuk hati para anggota Pansus agar RUU Pertembakauan yang tengah dibahas para wakil rakyat itu di Pansus jangan dilihat dari segi negatifnya saja yakni aspek kesehatan, tetapi juga harus dilihat juga dari aspek lainnya,” kata Ketua Pansus Pertembakauan DPR RI, Firman Subagyo di Gedung Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (13/2).

Yang juga memprihatinkan, kata politisi senior Partai Golkar tersebut, kondisi industri rokok banyak yang mulai tutup, seperti Jambu Bol dan Sukun di Kudus. Dari karyawan perusahaan itu 10.000 orang, kini tinggal 4.500.

“Kalau tidak segera dibuat regulasi, dampak sosial para pekerja, petani dan industri kian berat. Pada gilirannya, penerimaan negara akan terganggu secara besar-besaran,” ungkap Firman usai memimpin Rapat Pansus.

Menurut wakil rakyat dari Dapil Jawa Tengah ini, aspek lain yang harus mendapat perhatian Pansus adalah komoditas tembakau memberi dampak perekonomian nasional berupa penerimaana negara yang cukup besar, mencapai Rp 100-120 triliun per tahun.
Keluh kesah lain dari para pengusaha, cukai memberatkan pelaku usaha, karena tujuan cukai untuk menekan produksi. Tetapi sekarang berbalik menjadi salah satu alternatif penerimaan negara. “Dari penyerapan aspirasi terungkap, saat cukai rokok naik tajam, tidak menutup kemungkinan penyalahgunaan cukai palsu. Ini yang harus diwaspadai.”

Dampak berikutnya, sambung Firman, kalau ini terus ditekan, maka industri rokok akan kolaps, dampaknya pengangguran akan meningkat dan hasil produksinya tidak akan terserap. Padahal di sisi lain, ada industri rokok asing yang sudah mulai menanam tembakau guna memenuhi kebutuhannya yang berkadar tar rendah.

Fakta lain yang dijumpai, Pansus adalah petani tambakau masih berkeluh kesah karena hasil produknya, khususnya jenis virginia di Nusa Tenggara Barat (NTB), serapannya sangat kecil dibanding dengan menggunakan tembakau lainnya.

Bahkan Gubernur NTB, Dr TGH. Muhammad Zainul Majdi M A menyampaikan kepada DPR bahwa produksi sudah mencapai 40 ribu ton, tapi serapannya maksimal hanya 5.000 ton, sehingga juga perlu diwaspadai.

“Yang juga perlu diperhatikan, adanya laporan dari pelaku usaha dan petani, bahwa varietas tembakau Indonesia juga telah dibudidayakan di luar negeri seperti di China. Juga impor terbesar sekarang ini berasal dari Turki, Cina dan Brasil.” kata Firman.

Ditambahkan, RUU Pertembakauan jangan dilihat sisi negatif kesehatannya, tapi aspek lain juga diperhatikan. “Jika RUU ini disahkan menjadi UU, harus menjadi payung hukum dan kepastian semua pihak. Apalagi cukai-cukai palsu kini makin marak berkaitan dengan impor rokok ilegal yang mulai masuk Indonesia,” demikian Firman Subagyo. (art)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top