Profil

Hetifah Sjaifudian Siap Berjuang Untuk Keterwakilan Perempuan

TIDAK salah Airlangga Hartarto menjatuhkan pilihan kepada Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian MPP sebagai Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan sekaligus Ketua Umum Kesatuan Perempuan Partai Golkar (KPPG) yaitu salah satu dari sekian sayap partai Pohon Beringin tersebut.

Ya, ibu empat putri ini adalah seorang wanita pekerja. Dia tidak hanya ulet, tetapi juga telaten dalam menjalankan profesinya. Yang tak kalah penting, selama ini perempuan kelahiran Bandung, 30 Oktober 1964 tersebut selalu amanah dalam mengemban tugas.

Organisasi bukanlah hal baru digeluti perempuan peraih gelar Master Public Policy di Universitas Nasional Singapura ini. Sejak menuntut ilmu di Institut Teknologi Bandung (ITB), Hetifah sudah menjadi aktivis kampus. Dia lama bergelut dalam berbagai organisasi kemasyarakatan.

Hetifah pernah diberi kepercayaan menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa dan Ketua Ikatan Alumni Planologi ITB. Dia merupakan pendiri AKATIGA Pusat Analisis Sosial, Perkumpulan Inisiatif, serta B-Trust Advisory Group untuk Reformasi Kebijakan Publik dan Tata Pemerintahan.

Peraih gelar doktor di Universitas Flinders Adelaide, Australia ini mengaku terkejut mendapat kabar dirinya diberi kepercayaan yang sangat besar oleh partai dibawah kepemimpinan Airlangga Hartarto.

“Itu adalah tugas besar dan berat. Saya berusaha selalu tetap amanah guna menjalankan tugas mulia itu,” ungkap Hetifah, satu dari 18 wanita anggota Fraksi Partai Golkar 2014-2019 dalam keterangan melalui WhatsApp (WA) kepada Parlementarian.com, Senin (22/1).

Saat kabinet Partai Golkar dibawah pimpinan Airlangga diumumkan, Hetifah tidak berada di Jakarta. Dia bersama sejumlah anggota Komisi II DPR RI tengah melakukan Kunjungan Kerja (Kunker) di Medan. “Saya terkejut dapat kabar diberi kepercayaan sangat besar oleh partai.”

Walau demikian, sebagai kader partai Hetifah mengaku siap berjuang untuk keterwakilan perempuan yang substantif. Soalnya, tugas yang diberikan partai kepada dirinya adalah memimpin organisasi sayap yang menaungi kepentingan perempuan.

“Ini tentu saja bukan tugas ringan dan perkara mudah. Minggu ini, kami sudah harus mensukseskan proses verifikasi faktual partai politik yang mensyaratkan sekurang-kurangnya 30 persen perempuan ada dalam posisi kepengurusan partai di tingkat pusat.”

Dikatakan, sesuai amanah UU Partai Politik (Parpol), ungkap Hetifah, Partai Golkar sesungguhnya telah bertekad menegakkan komitmen, mendorong partisipasi perempuan tidak hanya di pusat tetapi juga di tingkat provinsi, kabupaten/kota, bahkan di kecamatan.

Saat ini Perempuan Golkar harus mempersiapkan diri untuk memenangkan para calon kepala daerah perempuan. Hanya beberapa calon kepala daerah perempuan yang diusung Partai Golkar.

Salah satu kader perempuan yang diusung Partai Golkar adalah Nurul Arifin, kader yang siap berkontestasi di Pilkada Kota Bandung. “Jika terpilih, kami ingin kepala daerah perempuan dari Partai Golkar ke depan bisa menjadi contoh kepala daerah yang kompeten dan berintegritas.”

Dikatakan wakil rakyat dari Dapil Kalimantan Timur ini, Perempuan Golkar perlu segera mempersiapkan Daftar Calon Sementara untuk mengikuti Pemilu Legislatif 2019 yang penyelenggaraannya bersamaan dengan pemilihan presiden.

Seperti diketahui, UU pemilu No.7 Tahun 2017 mensyaratkan setidaknya ada satu perempuan dari tiga nama di daftar calon. “Nama yang masuk, tentu bukan sembarangan, nama-nama untuk sekedar memenuhi quota perempuan semata tapi memang kader yang sudah teruji rekam jejaknya,” harap Hetifah.

Sejalan dengan target penambahan perolehan kursi Partai Golkar pada pemilu 2019, diharapkan jumlah perempuan di Fraksi Partai Golkar DPR RI bisa bertambah dari 18 minimal menjadi 30 orang.

Kami Perempuan Partai Golkar, lanjut wanita yang sudah menjadi anggota parlemen dua periode itu, siap mewarnai dan sekaligus secara sungguh-sungguh mewujudkan politik bersih dan demokratis.

“Buat kader perempuan terutama Partai Golkar yang sudah duduk di kursi legislatif baik di DPR RI maupun DPRD, kami akan mempertegas sikap politik dan keberpihakan kami pada nasib kaum perempuan, anak-anak, remaja serta kaum marjinal melalui kebijakan yang kami rumuskan.”

Selain itu, kata Hetifah, Perempuan Golkar juga terbuka untuk bekerja sama dengan seluruh komponen baik di legislatif, eksekutif maupun civil society antara lain KPPRI, KOWANI, KPPI, MPI, LSM, aktivis media, serta para akademisi yang peduli terhadap keterwakilan perempuan dalam politik.

“Mudah-mudahan kepercayaan yang diberikan di pundak kami, kaum perempuan bisa dijalankan dengan sebaik-baiknya. Kepada para kader perempuan Partai Golkar di seluruh Indonesia, saya menghimbau agar segera merapatkan barisan dan bergandeng tangan mewujudkan visi bersama ini,” demikian Hetifah Sjaifudian. (art)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top