Polhukam

Kaltim Butuh Figur Ibu, Sayang Tidak Ada Sosok Perempuan Maju Pilgub 2018

PARLEMENTARIA.COM– Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) membutuhkan figur dari kalangan perempuan (ibu-red). Sayang, dari sekian calon yang maju sebagai Gubernur-Wakil Gubernur di daerah kaya tambang itu pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak mendatang, tak satu juga kalangan perempuan, semua diisi calon laki-laki.

Sebelumnya, santer disebut nama Rita Widyasari menjadi calon Gubernur. Sayang yang bersangkutan tersangkut masalah hukum. Selain itu Hetifah Sjaifudian juga sempat disebut-sebut salah satu jagoan kaum perempuan untuk Pilgub Kaltim. Perempuan berhijab itu direkomendasi DPD dan pengurus tingkat Kabupaten/Kota, organisasi sayap serta ormas yg mendirikan dan didirikan Golkar.

Namun, DPP Golkar memutuskan lain. Yang diusung malah Andi Sofyan Hasdam-Nusyirwan Ismail sebagai sebagai pasangan Cagub dan Cawagub. DPP beralasan, Hetifah adalah salah satu tulang punggung di DPR RI sehingga tidak direlakan maju dalam kontestasi Pilkada Kaltim.

Banyak warga Kaltim yang menyayangkan keputusan itu. Sebut saja Endang Dwi Wahjuni. Di akun media sosial Facebook Hetifah, Endang berkomentar, sosok Hetifah sebetulnya layak memimpin Kaltim karena punya kapabilitas dan kepedulian sosial yang tinggi terhadap daerah pemilihannya.

“Saya kenal dengan ibu Hetifah dan beberapa kali melakukan kegiatan sosial yang melibatkan beliau. Menurut saya, beliau orang cerdas penuh empati pada masalah sosial, baik, santun dan peduli. Layak menjadi pemimpin Kaltim,” demikian tulis Endang.

Faiza, warga Kota Balikpapan, Kalimantan Timur menuturkan, sosok Hetifah sebetulnya mampu menjadi pemimpin baru yang tepat bagi Kaltim karena punya segudang pengalaman termasuk menjadi Anggota DPR RI Dapil Kaltim-Kaltara dua periode.

Pun dalam keluarga, Hetifah sebagai seorang ibu yang mampu membuktikan kemampuannya dalam mendidik anak-anaknya hingga ke jenjang pendidikan terbaik. “Sudah terbukti di keluarga, sudah pantas menjadi ibu untuk masyarakat Kaltim ini” papar Faiza.

Hetifah juga dikenal sering terjun langsung ke masyarakat di berbagai pelosok daerah Kaltim. “Ibu Hetifah tokoh yang mau terjun ke masyarakat hingga ke pelosok daerah. Itu sering beliau lakukan untuk mengunjungi konstituennya.

“Beliau juga bisa mewakili sosok figur ibu, dan keterwakilan perempuan, sehingga mampu menyuarakan aspirasi kaum perempuan”, ungkap salah satu pemuda dari Berau.

Isnawati juga menyayangkan perempuan belum diberikan kesempatan dalam pencalonan Pilkada 2018 ini. Padahal perempuan bukan hanya sebagai pelengkap tapi penentu di kancah politik.

“Menurut saya, ibu Hetifah memiliki kompetensi dan prestasi yang luar biasa. Beliau sangat peduli dengan kaum perempuan dan pembangunan Kaltim. Beliau juga aktif terjun langsung ke masyarakat”, tutur Sekretaris Pengajian Al-Hidayah Kaltim ini.

Ketua Kesatuan Perempuan Partai Golkar (KPPG) Provinsi Kaltim, Diah Mawarda, sangat meyayangkan batalnya pencalonan Hetifah di Pilgub Kaltim. Menurutnya selama ini didengungkan 30 persen keterwakilan perempuan, tetapi disetiap kontestasi perempuan selalu tersingkirkan untuk menjadi calon.

“Mudah-mudahan dengan adanya kejadian seperti ini bisa menjadi contoh di kemudian hari dan jangan terulang kembali. Perempuan harus diberikan tempat untuk menjadi pemimpin”, tegas Diah.

Hal serupa juga disampaikan Ketua Kartini AMPI Kota Samarinda, Ningsih Surya. Ia meyayangkan karena tidak adanya kesetaraan gender dan perhatian kepada keterwakilan perempuan dalam pencalonan di Pilkada Kaltim.

“Kemarin sempat mencuat nama ibu Hetifah. Kami sudah kembali lagi semangat, kami sebagai perempuan sangat bangga. Tetapi di detik-detik terakhir berubah”, sesal Ningsih. (art)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top