Polhukam

Nurhayati: Sebagai Identitas Bangsa, Budaya Malu Harus Kembali Dipupuk

PARLEMENTARIA.COM– Budaya malu sebagai identitas bangsa Indonesia yang mulai memudar harus kembali dipupuk terutama dalam beretika politik.

Hal itu disampaikan politisi perempuan Partai Demokrat, Nurhayati Ali Assegaf dalam menyongsong tahun politik 2018 ini. “Dari budaya malu itulah lahir moral dan etika politik yang baik,” kata Nurhayati di Gedung Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (8/1).

Politisi yang juga Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI itu selalu menekankan dan mengajak untuk kembali ke budaya asli bangsa Indonesia.

“Mari kembali ke budaya kita. Budaya malu dan budaya gotong royong ini adalah budaya bangsa Indonesia. Gotong royong itu terjadi karena kepedulian, bukan karena individu,” kata wakil rakyat dari Dapil Jawa Timur ini.

Dijelaskan, budaya malu dan gotong royong jika dikembalikan, biscayaseluruh lapisan masyarakat dapat hidup berdampingan dengan harmonis.

Menurut Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat ini, dengan sikap tersebut keberagaman merupakan keniscayaan, sebagaimana yang tersirat di dalam nilai-nilai Pancasila.

Sebuah negara yang melupakan masa lalunya, kata Nurhayati, tidak akan punya masa sekarang, apalagi masa depan. Bangsa Indonesia tidak boleh melupakan sejarah.

“Indonesia merdeka bukan karena pemberian. Kita merdeka karena sebuah perjuangan bersama. Karenanya, UUD 45 dan Pancasila merupakan hasil perjuangan bersama. Itu harus dihargai sehingga tidak ada perbedaan maupun perselisihan,” tambah dia.

Nurhayati juga mengingatkan, keberagaman bukan hanya sekedar kulit dan ras tetapi lebih dari itu, yakni kepercayaan. “Karena itu, saya berharap dalam memasuki tahun politik ini, segala bentuk keberagaman dapat diakomodir. Dengan begitu konten hoaks pun akan berkurang.”

Lebih jauh dikatakan, kita sebagai bangsa Indonesia harus malu menyebarkan konten hoaks, malu melakukan korupsi dan tindakan tidak senonoh lainnya.

Sekarang komunikasi banyak melalui media sosial (medsos). “Nah, sebelum konten kita bagikan, harus dipikirkan pantas atau tidak. Bagaimana kalau kita yang menerima dan membaca itu. Ini yang harus dijaga, apalagi bangsa ini adalah bangsa yang majemuk, plural dan sudah sepakat dalam kebhinekaan,” demikian Nurhayati Ali Assegaf. (art)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top