Polhukam

Belum Masuk Bursa Jawa Barat, Tubagus-Anton Harus Kerja Keras

PARLEMENTARIA– Peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof Dr Siti Zuhro menilai, Tubagaus Hasanuddin dan Irjen Polisi Anton Charliyan tidak memiliki pengalaman di eksekutif.

Karena itu, tidak mudah buat keduanya dapat memenangkan pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat pada pemilihan kepala daerah (pilkada) Juni mendatang.

Tubagus Hasanuddin merupakan mantan perwira tinggi TNI. Setelah menanggalkan baju TNI sejak beberapa tahun lalu, dia berkecimpung di lembaga legislatif. Saat ini Tubagus merupakan anggota Komisi I DPR RI.

Demikian pula halnya dengan Anton Charliyan yang masih memegang jabatan sebagai Kapolda Jawa Barat. “Walau mengenal daerah, tetapi jabatan Kapolda tidak seperti masa Orde Baru. Sebagai peringgi kepolisian di Jawa Barat, dia sehari-hari tidak bersentuhan langsung dengan rakyat atau pemilih di lapis bawah,” kata peneliti ini.

Siti Zuhro yang lebih akrab disapa Wiwiek ini menilai, selain tidak memiili pengalaman di eksekutif, pasangan yang diusung PDI Perjuangan ini harus bekerja keras untuk memperkenalkan diri dan dipilih masyarakat.

Berbeda dengan pasangan lain yang diusung koalisi Demokrat-Golkar-PAN, PKS-Gerinfra dan PPP, Hanura serta Nasdem. Demokrat-Golkar mengusung calon yang dalam lima tahun terakhir sudah malang melintang di eksekutih. Deddy Mizwar merupakan petahana.

Saat ini Deddy Mizwar adalah wakil Ahmad Heryawan dalam pemerintahan provinsi Jawa Barat, sedangkan Dedi Mulyadi adalah Bupati Purwakarta untuk periode kedua. Dia juga Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat.

Demikian pula dengan pasangan yang diusung koalisi Gerindra dengan PKS yakni Sudradjat dan Ahmad Syaikhu. Ini adalah pasangan purnawirawan TNI dan sipil.

Ketika masih aktif, Sudrajat adalah perwira tinggi Kementerian Pertahanan (Kemhan). Pada era pemerintahan SBY, dia dipercaya sebagai Duta Besar Indonesia untuk China. Beberapa tahun belakangan dia aktif di berbagai lembaga swadaya masyarakat di Jawa Barat.

Sedangkan Ahmad Syaikhu yang mendampingi Sudrajat bukanlah orang asing di eksekutif. Saat ini pimpinan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKS Jawa Barat, ini adalah Wakil Walikota Bekasi.

Demikian pula halnya dengan pasangan Ridwan Kamil- Uu Ruzhanul Ulum yang diusung koalisi partai papan bawah, PKB, Hanura, Nasdem dan PPP. Ridwan Kamil dengan elaktabilitas cukup tinggi dan nyaris tidak mendapat dukungan dari partai besar saat ini adalah walikota Bandung. Sedangkan UU yang menjadi pendampingnya juga Bupati di Jawa Barat.

Pengamat politik Indo Barometer, M Qodari juga sependapat dengan Siti Zuhro. Dia menilai Tubagus Hasanuddin dan Anton Charliyan perlu kerja keras untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitasnya.

“Hasanuddin-Anton merupakan nama baru dan belum masuk dalam bursa kandidat Calon Gubernur Jawa Barat, sehingga pasangan yang baru terbentuk ini perlu kerja keras. Mereka belum disebut-sebut dalam bursa kandidat maupun lembaga survei untuk Pilkada.”

Qodari melihat, selain pasangan Tubagus-Anton, nama Sudradjat juga baru muncul sebagai Cagub Jabar, dan belum dalam bursa kandidat calon gubernur, sehingga ia juga harus bekerja keras meningkatkan popularitas sekaligus elektabilitas.

Jika melihat latar belakang, Hasanuddin dan Sudradjat berlatar belakang TNI dan Anton berlatar belakang Polri. “Namun, dari tiga nama itu, Tubagus sudah lama menjadi politisi dan dua periode anggota DPR RI. Tubagus juga Ketua DPD PDI Jawa Barat, sehingga punya pengalaman lebih menghadapi pilkada,” demikian Muhammad Qodari. (art)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top