Polhukam

Zainudin Amali: Belum Ditemukan Obatnya, Politik Uang Sudah Jadi Kanker di Indonesia

PARLEMENTARIA.COM– Politisi senior Partai Golkar di Komisi II DPR RI, Zainudin Amali mengaku prihatin dengan budaya politik uang yang terjadi di Indonesia belakangan ini.

Bahkan menurut Wakil Ketua Komisi II tersebut, politik uang tidak hanya sekadar merusak demokrasi di tanah air. Namun, sudah menjadi kanker di setiap penyelenggaraan pemilihan umum seperti pemilihan pemimpin seperti kepala daerah presiden maupun legislatif.

Penyakit tersebut, ungkap wakil rakyat dari Dapil Provinsi Gorontalo itu, sampai sekarang belum ditemukan obat penawarnya. “Stadiumnya sudah sampai ke tingkat akut,” kata laki-laki kelahiran 16 September 1962 itu dalam diskusi Rislis Corner bertajuk Dana Partai Politik di Pejaten, Jakarta Selatan, Kamis (4/1).

Begitu juga dengan kenaikan dana partai politik yang tertuang dalam Undang-Undang No. 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (Pemilu). Menurut dia, ini tidak selalu menjadi solusi atas masalah korupsi elite politik.

Sebab, kondisi tersebut kembali lagi pada berbagai sistem di Indonesia. Di antaranya adalah pilkada serentak yang bakal digelar Juni tahun ini. Untuk menjadi seorang ‘calon’, harus memiliki prinsip ‘uang menjadi kekuatan’.

Akibatnya, lanjut Zainudin Amali, orang atau kader-kader berkualitas dan memiliki visi-misi serta program yang baik tetapi tidak mempunyai uang, akan terpinggirkan.

Seperti diketahui, sebelumnya Pemerintah bersama DPR menyetujui kenaikan anggaran parpol dalam UU Pemilu dari Rp108 menjadi Rp1.000 per suara. “Adanya anggaran yang digelontorkan tersebut, harapannya tentu saja untuk menjadikan parpol lebih baik,” demikian Zainudin Amali. (art)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top