Polhukam

Langkah Gerindra Majukan Yenny Wahid di Pilgub Jatim Dapat Tanggapan Positif

PARLEMENTARIA.COM– Langkah Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) menggaet Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid guna dimajukan sebagai calon gubernur (cagub) Jawa Timur pada pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak Juni mendatang mendapatkan tanggapan posotif dari sejumlah pihak termasuk Anang Hermansyah.

Bahkan Anang, politisi Partai Amanat Nasional (PAN) dari Dapil Jawa Timur yang duduk di Komisi X DPR RI menyebut putri sulung tokoh kharismatik Nahdlatul Ulama (NU) Abdurrahman Wahid itu tidak hanya sekadar tokoh perempuan humanis, tetapi yang bersangkutan juga punya kecakapan dalam memimpin.

Bila maju sebagai cagub pada pilkada mendatang, perempuan yang lebih dikenal dengan nama Yenny Wahid itu bakal diterima masyarakat Jawa Timur dengan tangan terbuka.

Soal kemampuan, Yenny tidak perlu diragukan lagi. Dia memiliki segudang pengalaman dalam berorganisasi termasuk dalam memimpin partai yang dideklarasikan ayah kandungnya yakni Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Yenny juga pernah dipercaya menjadi staf ahli presiden pada era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berkuasa. Yenny adalah tokoh humanis yang mampu membangun Jatim.

“Kalau aku bilang seperti di penyanyi, ya dia punya talenta politik yang cukup tinggi. Dia tokoh pejuang humanis. Aku rasa Mbak Yenny juga orang yang akan memiliki kemampuan yang luar biasa membangun Jawa Timur,” kata Anang, Rabu (3/1).

Walau belum punya pengalaman seperti Khofifah Indarparawansa yang juga maju sebagai cagub Jawa Timur di eksekutif, bukan berarti Yenny tidak punya kemampuan di dunia itu.

Yenny disebut punya kekuatan pro demokrasi, bagaimana membangun masyarakat yang baiksesuai dengan keinginan dari Pancasila. Yenny sudah sangat memahami bagaimana serta apa yang diperjuangkan orang tua kandungnya, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur selama ini ketika hidup

“Mbak Yenyy tidak mungkin melakukan yang keluar dari khitoh bapaknya. Kita tidak meragukan ketokohan Gus Dur dalam ikut serta bagaimana memajukan demokrasi Indonesia,” jelas Anang.

Dalam berbagai jajak pendapat, Saifullah Yusuf maupun Khofifah memang selalu punya angka elektabilitas tinggi. Namun, menurut Anang, masih banyak sektor pemilih yang belum jelas dan peta ini menurutnya akan berubah dengan dimunculkannya Yenny.

Syaifullah Yusuf dan Khofifah adalah figur lama, sementara Yenny sebagai figur baru yang punya talenta politik, bisa menghadirkan inovasi baru dalam menyelesaikan masalah kekinian di Jatim.

Dengan begitu, Yenny menurut Anang bisa mendapat ‘golden ticket’ untuk maju untuk Jawa Timur Satu. “Bukan aku ingin mentahkan pengalaman. Pengalaman fine. Tapi yang dibutuhkan kekinian adalah inovasi, kreativitas gaya kepemimpinan. . Insya Allah, aku berani guarantee deh.” kata Anang.

Sementara itu, pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Salahuddin Wahid (Gus Solah) yang juga adik kandung Gus Dur mengingatkan supaya tokoh NU menjaga kondusivitas Jawa Timur selama rangkaian penyelenggaraan pemilihan gubernur 2018.

Gus Solah mewanti-wanti, karena kader NU yang saling berhadapan di Jawa Timur dalam Pilgub nanti. Ada nama Syaifullah Yusuf, Khofifah serta mungkin juga Yenny Wahid.

Perbedaan pilihan politik agar tidak sampai memengaruhi keutuhan NU. “Saya cuma menyampaikan kepada tokoh-tokoh NU, kita jagalah, jangan rusak, jangan kita ganggu keutuhan NU,” kata Cawapres 2009 itu

Gus Solah menekankan, khusus Muslimat NU, organisasi perempuan Nahdliyin yang terancam terpecah belah kalau ada pihak-pihak luar yang memaksakan mengajukan calon lain. “Jangan sampai anggota Muslimat dipaksa oleh tokoh NU yang bukan dari Muslimat,” pinta dia.

Khofifah-Emil didukung Partai Demokrat-Golkar. Terakhir bergabung Partai Nasdem. Sedangkan, Saifullah Yusuf-Abdullah Azwar Anas diusung PDIP dan Yenny Wahid lagi ditimang-timang Gerindra, PKS dan PAN yang sudah sepakat berkoalisi sedikitnya di lima daerah termasuk Jawa Timur.

Gus Solah sadar, perbedaan pilihan tidak mungkin terhindarkan. Namun, mewanti-wanti saling menjaga agar situasi politik tidak memanas seperti dalam Pilkada DKI Jakarta 2017, terutama jika Partai Gerindra dan PKS memutuskan mencalonkan Zannuba Ariffah Chafsoh alias Yenny Wahid, putri Gus Dur.

“Jadi, kalau anggota Muslimat terpengaruh atau dipaksa, itu mengganggu, dan tidak mensyukuri nikmat Tuhan berupa organisasi Muslimat NU. Tentu lebih baik satu. Tapi kenyataannya kader NU yang lain. Sekarang bagaimana ada dua atau lebih calon ini tidak mengganggu keutuhan NU dan mengganggu keutuhan Muslimat NU,” demikian Solahuddin Wahid. (art)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top