Pengawasan

Ketua Presidium IPW: Tahun Politik, Potensi Oknum Polisi Bunuh Diri Tetap Tinggi

PARLEMENTARIA.COM– Walau kasus polisi bunuh diri 2017 turun sampai 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya tetapi potensi oknum aparat penegak hukum dan pengayom masyarakat tersebut tetap tinggi tahun ini.

Karena itu, kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane melalui WhatsApp (WA) kepada Parlementaria.com, Rabu (3/1), pimpinan kepolisian mulai dari ditingkat polsek, polres dan unit kerja seperti Bridage Mobil (Brimob) harus lebih peduli lagimemperhatikan sikap dan prilaku anak buah mereka agar kasus bunuh diri di lingkungan kepolisian bisa dihindari.

Data yang diperoleh IPW, kata Neta, sepanjang 2017 terjadi tujuh kasus polisi bunuh diri. Jumlah ini turun drastis jika dibandingkan 2016 yaitu 13 kasus. Bahkan lima percobaan bunuh diri berhasil diselamatkan nyawanya.

Kasus polisi bunuh diri 2017 ini hampir sama dengan 2015. Namun, dalam kasus 2017, ada dua fenomena yang patut dicermati. Pertama, sebagian besar polisi yang bunuh diri melakukan aksinya dengan cara menembak kepalanya. Hanya satu yang gantung diri.

“Ini mengindikasikan betapa beratnya beban dan tekanan yang mereka hadapi. Mereka sepertinya tidak mampu lagi berpikir realistis, cenderung mengambil jalan pintas dengan cara menembak kepala sendiri,” kata Neta.

Dari kasus itu, IPW menyimpulkan, kasus ini menunjukkan kesadisan luar biasa yang dilakukan mereka terhadap diri sendiri. Dari tujuh kasus bunuh diri tersebut, dua di antaranya dilakukan anggota Brimob, hanya karena soal sangat sepele, yakni stres dijadikan saksi.

Menurut IPW, peristiwa itu dialami Bripka Teguh Dwiyanto di Tangerang, Banten dan Ipda Sasmidias di Palu (Sulawesi Tengah) yang diduga karena terlalu lama bertugas di daerah konflik.

Menurut Neta, sebagian besar penyebab oknum polisi melakukan tindakan nekat bunuh diri karena masalah keluarga yang membelit dirinya, yakni empat kasus dan konflik dengan rekan kerja.

Melihat latar belakang ini, IPW khawatir, jika tidak diantisipasi, kasus polisi bunuh diri akan meningkat. “Sebab 2018 beban kerja anggota Polri cukup berat, terutama dalam menjaga keamanan pilkada serentak di berbagai daerah,” kata Neta.

Di sisi lain, lanjut dia, ada persoalan akut yang melilit anggota Polri, terutama di jajaran bawah, yaitu persoalan rumah tangga akibat terbatasnya penghasilan sebagai polisi.

Persoalan itu kerap menjadi tekanan tersendiri bagi anggota Polri dalam menjalankan tugas profesionalnya. “Ini pula yang kerap menjadi penyebab utama kasus polisi bunuh diri. Persoalan lain adalah gaya hidup hedonis yang kerap menimbulkan konflik antar teman.”

Selain itu, sambung dia, tekanan atasan yang kerap memberikan target untuk pencapaian prestasi atasan. “Bagaimana juga, masalah akut ini perlu diatasi. Para atasan perlu lebih peduli dalam mencermati bawahannya agar kasus polisi bunuh diri bisa diatasi,” demikian Neta S Pane. (art)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top