Peristiwa

Tiga Wisatawan Lokal Hilang Ditelan Gelombang Pantai Selatan

PARLEMENTARIA.COM– Tiga wisatawan lokal hilang ditelan ombak Pantai Bangson Teluk Asmara (BTA), pesisir selatan Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu (30/12) siang.

Mereka warga Malang, yakni Indra Ardiatmoko, Sandi Mohamad dan Diki Wahyudi. Ketiganya dengan enam rekan berangkat ke BTA untuk wisata dan bermain air di laut.

Sebelum kejadian naas itu, korban bersama rekan lainnya menaiki pohon kurang lebih 7 meter. Namun, pohon itu dibawa arus ke tengah laut. Naas, di tengah laut pohon yang mereka naiki dihantam ombak.

“Delapan orang terpental. Mereka berhasiil diselamatkan, kecuali Diki dan Sandi serta Indra. Ketiganya digulung ombak. Ketiganya masih dalam pencarian,” kata Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang, Iwan Siswanto, Sabtu petang.

Kasat Polair Polres Malang, AKP Dwiko Gunawan mengatakan, ketiga korban masih dalam pencarian bersama Tim SAR, Polairud, TNI AL dan masyarakat.

“Pencarian terpaksa dihentikan sekitar pukul 18.00 WIB karena cuaca tidak memungkinkan. Selain gelombang besar juga sudah gelap sehingga tidak memungkinkan pencarian dilakukan dalam kondisi demikian,” kata Dwiko.

Dwiko menyebut, tim gabungan memang memilih untuk menghentikan pencarian disebabkan cuaca buruk dan keterbatasan jarak pandang. Ombak Pantai Selatan juga meninggi saat malam hari.

“Kita memang mau menyelamatkan nyawa orang. Namun, jangan sampai kita tidak mengutamakan keselamatan tim. Pencarian masih dilakukan di sepanjang pantai. Dari tebing kita lakukan pengamatan dan observasi tetapi belum ditemukan tanda-tanda.”

Meski masih dalam pencarian, Dwiko memastikan tak ada penutupan tempat wisata pantai di kawasan Malang Selatan. Pihaknya mengaku selalu memberi imbauan kepada wisatawan untuk selalu memperhatikan larangan di sepanjang pantai.

“Ini Laut Selatan. Lautnya terkenal dengan gelombang tinggi dan rawan. Kita sering mengimbau untuk tidak mandi di pantai, jangan melebihi rambu-rambu yang ditentukan pengelola wisata. Namun, itu semua kembali ke masing-masing wisatawan,” demikian Dwiko Gunawan. (art)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top