Polhukam

Pakar: Sukses Anies-Sandi Modal Gerindra dan PKS Buat Pilgub Jabar

PARLEMENTARIA.COM– Sukses pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang diusung partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bisa menjadi salah satu modal buat kedua partai memenangkan pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur Jawa
Barat pada Pilkada serentak 2018.

Hal itu dibenarkan pakar komunikasi politik dari Universitas Indonusa Esa Unggul, Muhammad Jamiluddin Ritonga ketika bincang-bincang dengan Parlementatia.com di ruang kerjanya beberapa hari lalu.

Menurut Jamiluddin Ritonga, kemungkinan besar Pemilihan Gubernur
Jawa Barat mendatang diikuti tiga kontestan yakni poros Partai
Gerindra-PKS, Partai Demokrat-Golkar dan poros PDI Perjuangan.

Partai lainnya yang tidak bisa mengusung sendiri calonnya seperti
PPP, PAN, PKB, Hanura dan Nasdem belum diketahui masuk ke poros
mana. PAN dan PKB kemungkinan masuk ke poros Demokrat-Golkar
atau Gerindra-PKS. Petinggi keduan partai sudah bertemu dengan kedua poros tersebut.

Sementara itu, Hanura dan Nasdem kemungkinan bergabung denganporos PDIP. Bahkan dari awal Nasdem sudah menyebutkan memberi dukungan
kepada Walikota Bandung, Ridwan Kamil.

Ridwan Kamil yang punya elektabilitas cukup untuk bersaing dengan dua calon lain, bakal didukung PDIP karena partai besutan Megawati itu tidak mempunyai kader untuk bisa bersaing dengan calon lainnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, pada Pemilihan Gubernur Jawa Barat
Juni mendatang, poros Partai Gerindra-PKS mengusung pasangan
Sudrajat-Ahmad Syaikhu sebagai calon gubernur dan wakil gubernur.

Sudrajat merupakan purnawirawan Mayor Jederal TNI AD. Setelah
menyelesaikan tugasnya sebagai Duta Besar Indonesia untuk China,
aktif diberbagai kegiatan kemasyarakatan. Ahmad Syaikhu sebagai
pendamping Sudrajat adalah Wakil Walikota Bekasi.

Sementara calon yang diusung Partai Demokrat serta Golkar yakni
Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi sudah tidak asing lagi buat rakyat
Jawa Barat. Deddy Miswar merupakan petahana, sedangkan Dedi
Mulyadi salah satu dari sedikit bupati yang sukses di Jawa Barat.

Bila pada pemilihan gubernur Jawa Barat nanti ada tiga pasangan,
Jamiluddin memperkirakan pemilihan bakal berlangsung dua putaran.
“Saya kira, Deddy-Dedi bakal bersaing dengan Sudrajat-Syaikhu. Saya tidak melihat Ridwan Kamil dengan pasangannya bakal maju ke putaran kedua,” kata Jamiluddin.

Sementara itu pakar politik dan Pemerintahan dari Universitas Parahyangan Bandung, Asep Warlan pada salah satu media sosial menjelaskan, bila bergabung dengan PDIP suara Ridwan Kamil akan hilang kalangan bawah yang terkenal religius dan tradisional.

Menurut Asep, PDIP punya catatan mengusung Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Pemilihan Gubernur DKI Jakarta, akan dilawan dengan isu politik identitas. Bahkan, masyarakat kelas bawah menilai, PDIP sebagai partai anti Islam.

“PDIP di persepsi publik sudah begitu, bahkan tidak sedikit tokoh mengatakan pokoknya siapapun yang didukung partai penista Islam, jangan dipilih,” ujar Asep di Bandung, Jumat (29/12).

Bahkan, kata dia, jika keputusan politik PDIP mendukung Ridwan Kamil dan diterima begitu saja oleh yang bersangkutan, itu sama halnya dengan bunuh diri. “Tanpa bermaksud isu SARA, Jawa Barat butuh sosok yang religi karena persepsi masyarakat.”

Menurut Asep, isu keagamaan menjadi pondasi kuat di Pilgub Jabar
yang mengidentikan kepada partai dan calon. Bahkan, mayoritas
masyarakat di Jawa Barat mengharapkan sosok yang religius.

Meski kemungkinan mendukung Ridwan Kamil terbuka, ungkap Asep, tapi menghilangkan frame isu SARA dari Pilgub DKI Jakarta masih jadi pekerjaan rumah buat PDIP.

“Apalagi jika tim suksesnya ada tokoh Islam, kalau bercandanya ‘PDIP Syariah’. Pasangannya harus dekat dengan nuansa umat Islam, jika jauh dari itu, nanti ada prasangka PDIP anti Islam,” kata dia.

Sebelumnya, Wakil Sekretaris Jenderal DPP PDIP, Eriko Sotarduga
mengatakan, partainya membuka peluang mengusung Ridwan Kamil di Pilgub Jawa Barat.

Namun, PDIP masih menunggu komunikasi. Opsi ini menjadi opsi terakhir PDIP. “Kami sudah menyiapkan tiga opsi, pertama maju sendiri. Artinya kader internal dua-duanya, atau internal-eksternal,” kata Eriko.

Dia menyebutkan, opsi kedua, PDIP akan berkomunikasi dengan partai masih belum tegas, seperti PPP, PKB, dan Hanura, untuk sama-sama berkoalisi serta menentukan cagub Jabar.

“Ketiga, kami membuka diri bila mana RK melakukan komunikasi
dengan kami. Karena dengan PPP, PKB belum ada kepastian masalah
wakil. Tapi tentunya opsi ketiga, kalau ada komunikasi dengan pihak
Ridwan Kamil,” demikian Eriko Sotarduga. (art)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top